Khamenei Tewas, Masa Depan Iran Terombang-ambing

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Iran mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan mematikan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Minggu (1/3/2026). Kepergian tokoh berusia 86 tahun itu memicu ketidakpastian mengenai arah politik dan keamanan Republik Islam.

Khamenei memimpin Iran sejak 1989 dan dikenal sebagai figur paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan negara. Sebagai panglima tertinggi, ia memegang keputusan final atas kebijakan politik, militer, hingga keagamaan. Bahkan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berada langsung di bawah otoritasnya.

Wafatnya Khamenei secara mendadak dinilai membuat masa depan Iran berada dalam situasi tidak menentu. Ia bukan sekadar kepala negara, melainkan salah satu tokoh terakhir dari generasi pendiri Republik Islam.

Khamenei lahir di Mashhad pada 19 April 1939 dari keluarga ulama. Ia aktif dalam gerakan anti-Shah dan menempuh pendidikan agama di Qom di bawah bimbingan ulama besar, termasuk Ruhollah Khomeini, pendahulunya sebagai pemimpin tertinggi.

Selama masa kepemimpinannya, Khamenei disebut memperkuat IRGC serta mendorong pengembangan program nuklir Iran. Di sisi lain, ia juga menghadapi tekanan internasional dan berbagai gejolak domestik. Menjelang akhir masa kekuasaannya, hampir seluruh keputusan strategis negara terpusat di tangannya, sementara posisi presiden lebih berfungsi administratif.

Penerus Masih Teka-teki

Dinamika politik internal membuat proses suksesi menjadi sorotan. Sebelumnya, mendiang Presiden Ebrahim Raisi sempat digadang-gadang sebagai calon kuat pengganti Khamenei, namun ia wafat dalam kecelakaan helikopter pada 2024.

Kondisi itu memunculkan spekulasi baru, termasuk kemungkinan putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, masuk bursa kandidat. Meski memiliki pengaruh di belakang layar, peluang Mojtaba belum pasti karena jabatan Pemimpin Tertinggi tidak diwariskan secara dinasti.

Dalam sistem Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli. Selain kekuatan politik, kandidat harus memperoleh dukungan ulama senior, IRGC, serta elite kekuasaan. Sejumlah ulama dilaporkan kurang mendukung skenario dinasti, yang juga berpotensi menuai resistensi publik.

Beberapa nama lain turut disebut sebagai kandidat potensial, antara lain Alireza Arafi, Sadeq Amoli Larijani, hingga mantan presiden Hassan Rouhani.

Muncul Skenario Dominasi Militer

Di tengah ketidakpastian suksesi, muncul pula skenario lain: kemungkinan IRGC mengambil peran dominan apabila tidak muncul figur ulama yang cukup kuat. Jika itu terjadi, struktur teokrasi Iran berpotensi bergeser dengan militer menjadi aktor utama, sementara ulama berfungsi sebagai pemberi legitimasi.

Untuk sementara, pemerintahan transisi disebut akan dijalankan oleh Presiden, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, serta perwakilan Dewan Garda hingga proses suksesi rampung.

Situasi politik Iran kini menjadi sorotan dunia, mengingat perubahan kepemimpinan di Teheran berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah secara luas.