Pasca-Gugurnya Khamenei, AS Serukan Perubahan Rezim dan Tekan Garda Revolusi Iran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan pada Sabtu (28/2/2026) tidak akan menghentikan operasi militer yang sedang berlangsung.

Trump menyatakan bahwa kampanye militer bersandi Operation Epic Fury ini akan terus berlanjut hingga tujuan strategis tercapai.

Melansir laporan Reuters, Trump menyebut operasi tersebut menyasar fasilitas rudal dan kekuatan angkatan laut Iran sebagai upaya menciptakan perdamaian di Timur Tengah dan dunia.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menilai kematian Khamenei sebagai bentuk keadilan bagi rakyat Iran, warga Amerika Serikat, serta komunitas internasional yang terdampak oleh kebijakan Teheran selama ini.

Seorang pejabat senior Israel sebelumnya telah mengonfirmasi penemuan jasad Khamenei pasca-gempuran udara, yang kemudian diperkuat oleh pernyataan resmi media pemerintah Iran.

Trump, yang memantau jalannya operasi dari resor Mar-a-Lago di Florida, menegaskan bahwa pemboman berat akan tetap dilakukan sepanjang minggu ini atau selama diperlukan untuk memastikan stabilitas kawasan.

Dalam foto-foto yang dirilis Gedung Putih, Trump tampak berdiskusi intensif dengan tim keamanan nasionalnya, termasuk Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance.

Meski sebelumnya sempat memperingatkan potensi jatuhnya korban di pihak Amerika, Komando Pusat AS melaporkan tidak ada korban jiwa atau luka di pihak AS dalam dua belas jam pertama operasi. Kerusakan pada instalasi militer AS di kawasan tersebut juga dilaporkan minimal.

Pemerintahan Trump berdalih bahwa langkah militer ini diambil karena Iran dianggap menggunakan taktik mengulur waktu dalam perundingan nuklir beberapa pekan terakhir.

Pejabat senior AS menuding Teheran berupaya mempertahankan kemampuan pengayaan uranium untuk mengembangkan senjata nuklir melalui berbagai trik diplomasi.

Selain serangan fisik, Trump secara terbuka mendorong adanya perubahan rezim di Iran. Ia menyerukan kepada anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk segera meletakkan senjata dengan iming-iming kekebalan hukum, atau menghadapi konsekuensi fatal.

Trump juga mengimbau rakyat Iran untuk memanfaatkan momentum ini guna mengambil alih pemerintahan mereka, yang ia sebut sebagai kesempatan langka yang mungkin tidak akan terulang dalam beberapa generasi.

Hingga saat ini, eskalasi di kawasan masih sangat dinamis dengan status siaga tinggi di berbagai pangkalan militer AS dan sekutunya di Timur Tengah.