NATO Disebut ‘Macan Kertas’, Trump Siap Angkat Kaki dari Aliansi Atlantik

JurnalPatroliNews – Jakarta – Rencana kontroversial kembali mencuat dari meja kerja Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam sebuah pernyataan yang mengguncang panggung diplomasi internasional, Trump secara terbuka mempertimbangkan untuk membawa AS keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Alasan utamanya adalah kekecewaan mendalam terhadap aliansi yang dianggapnya tidak memberikan dukungan saat AS terlibat ketegangan dengan Iran.

Kepada media Inggris, Daily Telegraph, Trump menegaskan kesiapannya untuk hengkang tanpa keraguan sedikit pun. Ia bahkan secara blak-blakan menjuluki NATO sebagai macan kertas dan meragukan kredibilitas pertahanan aliansi tersebut di mata dunia, termasuk di mata Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Sikap keras Trump ini memicu gelombang respons dari para pemimpin dunia. Dari Asia, Pemerintah Jepang melalui Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara menyatakan kekhawatirannya.

Tokyo menekankan bahwa stabilitas hubungan antara AS dan Eropa adalah fondasi keamanan global yang tidak boleh diganggu, mengingat status Jepang sebagai mitra strategis NATO di kawasan Indo-Pasifik.

Respons senada namun lebih dingin datang dari London. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, memilih untuk tidak terjebak dalam retorika Trump.

Starmer menegaskan bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan selalu berlandaskan pada kepentingan nasional Inggris, seolah menegaskan posisi Inggris yang tetap berdaulat di tengah kegaduhan ini.

Sementara itu, Berlin menunjukkan sikap tenang namun teguh. Juru bicara pemerintah Jerman menyebut ancaman Trump sebagai fenomena berulang yang sudah sering terdengar.

Jerman, sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, menyatakan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap eksistensi NATO.

Kritik paling tajam datang dari Paris. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menilai pernyataan Trump sengaja dirancang untuk melemahkan organisasi dari dalam dengan menciptakan keraguan.

Menurut Macron, ketidakkonsistenan AS di bawah kepemimpinan Trump justru mengosongkan makna aliansi dan merusak solidaritas Barat yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Data dari Congressional Research Service (CRS) menunjukkan bahwa konsekuensi jika AS benar-benar keluar akan sangat masif.

Hingga kini, terdapat sekitar 80.000 personel militer AS yang tersebar di daratan Eropa dengan 43 pangkalan militer yang menjadi tulang punggung pertahanan kawasan. Jerman sendiri menampung lebih dari 35.000 pasukan, diikuti oleh Italia dan Inggris.

Dari sisi finansial, dominasi AS di NATO tak tertandingi. Dari total 3,4 juta personel aktif aliansi, 38 persen di antaranya disumbang oleh AS.

Anggaran belanja pertahanan AS untuk tahun 2025 diperkirakan mencapai 845 miliar dolar, jauh melampaui total gabungan negara Eropa dan Kanada yang hanya sebesar 559 miliar dolar.

Analisis dari International Institute for Strategic Studies (IISS) memperingatkan implikasi fatal jika AS angkat kaki. Tanpa kehadiran militer Amerika, Eropa diprediksi harus menggelontorkan dana ekstra hingga 1 triliun dolar untuk menutup celah intelijen dan pertahanan.

Hal ini menjadi krusial mengingat Rusia diprediksi kembali menjadi ancaman signifikan pada tahun 2027, terutama bagi negara-negara di kawasan Baltik.