Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

JurnalPatroliNews – Jakarta – Personel keamanan elite dan penasihat medis asal Kuba dilaporkan mulai ditarik dari Venezuela di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap pemerintahan interim Presiden Delcy Rodríguez.

Perkembangan ini menandai perubahan penting dalam aliansi kiri yang selama bertahun-tahun menjadi pilar kekuatan politik di kawasan Amerika Latin.

Sebanyak 11 sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebut arus kepulangan warga Kuba terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Penarikan ini berlangsung ketika pemerintah baru Venezuela berupaya menavigasi tekanan politik dan keamanan dari Amerika Serikat.

Rodríguez kini disebut tidak lagi mengandalkan pengawal dari Kuba untuk pengamanan pribadinya. Ia dilaporkan mempercayakan tugas tersebut kepada personel keamanan Venezuela. Langkah ini berbeda dari praktik pada era Nicolás Maduro maupun mendiang Hugo Chávez, yang selama bertahun-tahun bergantung pada pasukan elite Havana.

Situasi semakin sensitif setelah 32 warga Kuba dilaporkan tewas dalam serangan militer Amerika Serikat pada 3 Januari, operasi yang berujung pada penangkapan Maduro. Mereka merupakan bagian dari kerja sama keamanan mendalam yang terjalin sejak akhir 2000-an, termasuk penempatan agen intelijen Kuba di militer Venezuela serta unit kontraintelijen DGCIM.

“Pengaruh Kuba sangat penting bagi kelangsungan pemerintahan Chavista,” kata Alejandro Velasco, profesor sejarah di New York University dan pakar Venezuela, seperti dikutip dari Reuters, Minggu, 22 Februari 2026. 

Di internal DGCIM, sejumlah penasihat Kuba dilaporkan telah dicopot, sementara sebagian tenaga medis dan konsultan keamanan sudah kembali ke Havana. Meski demikian, beberapa penasihat militer Kuba disebut masih bertugas di Venezuela, dan akademisi dari negara itu tetap mengajar di universitas kepolisian UNES.

Sumber yang dekat dengan partai berkuasa Venezuela menyebut kepulangan warga Kuba dilakukan atas perintah Rodríguez menyusul tekanan Amerika Serikat. Namun sumber lain mengatakan belum jelas apakah mereka dipaksa keluar, pulang secara sukarela, atau dipanggil pemerintah Kuba.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyatakan ingin mengakhiri hubungan keamanan antara Caracas dan Havana. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menuding Kuba selama ini memperoleh minyak dan dana besar dari Venezuela sebagai imbalan atas layanan keamanan bagi dua pemimpin terakhir negara tersebut.

Pengamat menilai Rodríguez sedang mengambil langkah hati-hati: menjaga jarak dari Kuba untuk meredakan tekanan internasional tanpa benar-benar memutus hubungan strategis yang telah terbangun selama lebih dari satu dekade.