Perang Elektronik Memanas: Sistem Pelacakan Pasif Iran Disebut Mampu Deteksi Jet Siluman F-35

JurnalPatroliNews – Jakarta – Dunia militer internasional digemparkan oleh klaim terbaru dari Iran yang menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah berhasil melacak keberadaan jet tempur siluman paling canggih di dunia, Lockheed Martin F-35 Lightning II.

Klaim ini memicu perdebatan panas mengenai apakah era kejayaan teknologi stealth (siluman) mulai menemui titik akhir.

Selama ini, F-35 dikenal sebagai pesawat yang hampir “tidak terlihat” oleh radar konvensional berkat desain bodi yang memantulkan gelombang radar dan penggunaan material penyerap radar (RAM). Namun, laporan terbaru dari Teheran menyatakan bahwa keunggulan tersebut kini dapat ditembus.

Sistem Pelacakan Pasif: Senjata Rahasia Deteksi Kunci dari klaim Iran ini diduga terletak pada penggunaan sistem pelacakan pasif (Passive Coherent Location).

Berbeda dengan radar aktif yang memancarkan gelombang sendiri, radar pasif bekerja seperti “telinga raksasa” yang memanfaatkan sinyal elektromagnetik yang sudah ada di atmosfer—seperti sinyal radio, TV, dan seluler—untuk mendeteksi gangguan di udara yang disebabkan oleh pergerakan pesawat.

Karena pesawat stealth dirancang untuk meminimalisir pantulan radar aktif, mereka tetap tidak bisa menghindari gangguan pada sinyal lingkungan atau emisi elektronik dari sistem komunikasi internal pesawat itu sendiri.

Ancaman Sensor Inframerah (IRST) Selain radar pasif, teknologi Infra-Red Search and Track (IRST) menjadi ancaman nyata bagi F-35. Meskipun desain mesin F-35 telah berupaya meredam panas, mesin jet tetap menghasilkan jejak termal yang signifikan saat beroperasi di udara.

Sensor inframerah canggih mampu mendeteksi kontras suhu antara knalpot panas pesawat dengan udara dingin di sekitarnya.

Perang Informasi atau Fakta Militer? Sebuah video yang viral di media sosial diklaim menunjukkan sistem pemantauan Iran berhasil mengunci posisi jet F-35. Namun, sejumlah pengamat militer memperingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Dalam dunia intelijen, klaim semacam ini sering kali digunakan sebagai bagian dari strategi perang informasi (information warfare) untuk meruntuhkan moral lawan.

“Mendeteksi pesawat stealth di layar monitor adalah satu hal, namun mengunci sasaran untuk ditembak jatuh adalah hal yang jauh lebih sulit secara teknis,” ujar salah satu pakar militer.

Hingga saat ini, pihak Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim pelumpuhan jet kebanggaan mereka tersebut.