PM Thailand Minta Maaf Usai Kenaikan Harga BBM Picu Kepanikan Publik


JurnalPatroliNews – BANGKOK — Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat menyusul polemik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu kepanikan di berbagai wilayah Thailand.

Permintaan maaf tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Pemerintah di Bangkok, setelah kebijakan pemerintah terkait harga BBM menuai kritik luas karena dinilai mendadak dan membingungkan publik.

“Saya meminta maaf kepada masyarakat atas kekacauan yang disebabkan oleh pengelolaan situasi bahan bakar,” ujar Anutin sambil membungkuk, seperti dikutip dari Bangkok Post, Senin (30/3/2026).

Ia mengakui adanya kekeliruan dalam pengelolaan kebijakan energi di tengah dampak konflik Timur Tengah yang berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Krisis memuncak saat pemerintah secara tiba-tiba mencabut pembatasan harga BBM, yang langsung memicu kenaikan sekitar 6 Baht per liter. Kebijakan ini mendorong kepanikan warga yang berbondong-bondong mengisi bahan bakar, sehingga menimbulkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.

Sebelumnya, pemerintah berupaya menahan harga melalui subsidi besar dari Dana Bahan Bakar Minyak. Namun, kebijakan tersebut menjadi beban fiskal setelah dana yang digelontorkan mencapai 20 miliar Baht hanya dalam tiga minggu, dengan subsidi harian menyentuh 2 miliar Baht.

Anutin menjelaskan, pencabutan pembatasan harga bukan berarti pemerintah sepenuhnya melepas harga ke mekanisme pasar. Subsidi tetap diberikan, namun dikurangi dari 24 Baht menjadi 16 Baht per liter agar lebih mencerminkan kondisi pasar global.

Ia menambahkan, langkah tersebut juga bertujuan mencegah praktik penyelundupan BBM ke negara tetangga serta penimbunan oleh pihak-pihak yang ingin meraup keuntungan.

Dari sisi pasokan, pemerintah memastikan kondisi sebenarnya masih aman. Thailand memiliki kapasitas produksi sekitar 77 juta liter per hari, lebih tinggi dari konsumsi rata-rata sebesar 67 juta liter. Namun, kepanikan masyarakat sempat mendorong lonjakan konsumsi hingga 82 juta liter per hari atau meningkat sekitar 22 persen.

Untuk meredam situasi, pemerintah mengimbau masyarakat agar menggunakan bahan bakar secara bijak. Anutin bahkan mengusulkan penghematan sederhana, yakni satu liter per rumah tangga per hari, yang berpotensi menekan konsumsi nasional hingga 10 juta liter per hari.

Pemerintah juga memastikan distribusi BBM telah kembali stabil setelah dilakukan berbagai langkah, seperti penambahan jalur pengiriman, pemanfaatan cadangan nasional, serta penindakan terhadap praktik penimbunan.

Selain itu, Thailand dikabarkan telah mencapai kesepakatan dengan Iran untuk menjaga keamanan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz, guna memastikan kelancaran pasokan impor.

Menjelang libur Songkran, pemerintah menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan BBM.

“Masyarakat dapat yakin bahwa akan ada cukup bahan bakar untuk perjalanan pulang kampung,” kata Anutin.

Ia juga menekankan bahwa harga BBM di Thailand masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Laos, serta mengajak masyarakat untuk beradaptasi dengan dinamika global yang tengah berlangsung.