JurnalPatroliNews – Damaskus – Situasi keamanan di timur laut Suriah kembali memanas setelah sekitar 1.500 tahanan yang diduga anggota kelompok teroris ISIS dilaporkan melarikan diri dari sebuah penjara di wilayah tersebut. Insiden terjadi di Penjara Shaddadi, di tengah bentrokan bersenjata antara Tentara Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi.
Media Kurdi Rudaw mengutip pernyataan juru bicara SDF, Farhad Shami, yang menyebutkan bahwa ratusan hingga ribuan anggota ISIS berhasil kabur saat konflik bersenjata pecah di sekitar fasilitas penahanan.
Menanggapi peristiwa itu, Tentara Suriah segera memberlakukan jam malam di Kota al-Shaddadi. Langkah tersebut diambil untuk mengendalikan situasi keamanan serta mencegah meluasnya dampak pelarian para tahanan.
“Jam malam diberlakukan di al-Shaddadi setelah sejumlah militan ISIS melarikan diri dari penjara di tengah bentrokan dengan SDF,” demikian laporan kantor berita pemerintah Suriah, SANA, Selasa, 20 Januari 2026.
Bentrok bersenjata tersebut terjadi hanya sehari setelah Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan pimpinan SDF Mazloum Abdi mengumumkan kesepakatan gencatan senjata. Namun, implementasi kesepakatan itu dinilai rapuh dan belum sepenuhnya berjalan di lapangan.
Pihak militer Suriah mengklaim telah mengambil alih sepenuhnya Kota al-Shaddadi beserta penjara tempat para tersangka ISIS ditahan. Aparat keamanan kini dikerahkan untuk melakukan penyisiran intensif di dalam kota maupun wilayah sekitarnya guna memburu para napi yang melarikan diri.
Insiden tersebut memicu saling tuding antara Tentara Suriah dan SDF. Militer Suriah menuding SDF dengan sengaja membebaskan para tahanan ISIS, sementara SDF membantah tuduhan itu dan menyatakan bahwa mereka kehilangan kendali atas penjara akibat serangan pasukan pemerintah.
SDF juga melaporkan korban di pihak mereka, dengan sembilan personel tewas dan sekitar 20 lainnya mengalami luka-luka dalam pertempuran di sekitar Penjara al-Aqtan. Mereka mengungkapkan kekecewaan karena koalisi militer pimpinan Amerika Serikat tidak memberikan bantuan, meski telah dimintai dukungan berulang kali.
Meski ISIS telah dinyatakan kalah secara teritorial di Irak pada 2017 dan di Suriah pada 2019, kelompok tersebut masih diyakini memiliki jaringan sel tidur yang aktif dan terus melancarkan serangan sporadis di kedua negara.














