Semenanjung Asia Membara: Pakistan Resmi Deklarasikan Perang Terbuka Lawan Afghanistan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan di kawasan Asia Selatan mencapai titik didih paling kritis setelah Kementerian Pertahanan Pakistan secara resmi mengumumkan deklarasi perang terbuka terhadap Afghanistan, Jumat (27/2/2026).

Pengumuman ini menyusul aksi militer masif yang membombardir sejumlah kota besar di negara tetangganya tersebut.

Konflik yang telah memanas sejak Oktober 2025 ini memasuki babak baru yang lebih destruktif. Setelah sempat mereda, konfrontasi bersenjata kembali pecah pada Kamis (26/2) malam ketika pasukan darat Pakistan mulai menyerbu berbagai titik perbatasan strategis.

Di saat yang sama, angkatan udara Pakistan meluncurkan serangan udara mematikan ke ibu kota Kabul dan beberapa pusat kota lainnya.

Pernyataan Keras dari Islamabad Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa negaranya kini berada dalam mode konfrontasi total terhadap pemerintahan Afghanistan yang dipimpin oleh kelompok Taliban.

“Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” tegas Asif melalui keterangan resmi sebagaimana dikutip dari AFP.

Pakistan mengeklaim bahwa agresi ini adalah bentuk bela diri dan “balas dendam” atas kegagalan Afghanistan dalam meredam pergerakan milisi bersenjata yang berulang kali menyerang wilayah Pakistan dari balik perbatasan.

Senada dengan hal tersebut, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa negaranya memiliki kapabilitas militer penuh untuk menghadapi dan menghancurkan ancaman dari Afghanistan.

Bantahan Taliban dan Konteks Geopolitik Pemerintah Taliban di Kabul membantah keras tuduhan Pakistan terkait keterlibatan milisi bersenjata di wilayah mereka.

Meski demikian, bantahan tersebut tidak menyurutkan serangan darat dan udara yang terus dilancarkan oleh Islamabad.

Pertempuran yang pecah sejak akhir tahun lalu ini telah menelan korban jiwa sedikitnya 70 orang dari kedua belah pihak.

Deklarasi perang ini dikhawatirkan akan memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas dan ketidakstabilan regional di Asia Selatan, mengingat posisi strategis kedua negara di perbatasan tersebut.