JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Serbia dan Swedia mengimbau warga negaranya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Seruan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam kemungkinan aksi militer terkait program nuklir Republik Islam yang kembali menjadi sorotan global.
Beograd sebenarnya telah lebih dahulu mengeluarkan peringatan. Sejak pertengahan Januari, otoritas Serbia sudah meminta warganya tidak bepergian ke Iran dan mendorong mereka yang berada di sana untuk segera pulang. Langkah ini diambil menyusul laporan penindakan keras terhadap aksi protes yang mengguncang stabilitas domestik Iran.
“Karena situasi keamanan yang memburuk, warga negara Republik Serbia tidak disarankan untuk melakukan perjalanan ke Iran dalam periode mendatang,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Serbia, dikutip AFP, Minggu (22/2/2026).
“Semua orang yang berada di Iran disarankan untuk meninggalkan negara itu sesegera mungkin,” lanjut pernyataan tersebut.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard juga menyampaikan imbauan tegas melalui platform X.
“Seruan keras kepada warga Swedia yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara itu,” tulisnya.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran, Iran pada Jumat (20/2/2026) menyatakan harapan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait program nuklirnya, yang selama ini menjadi sumber ketegangan kedua negara.
Namun, Trump sebelumnya telah memerintahkan pengerahan besar kekuatan angkatan laut AS ke kawasan Timur Tengah guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Ia juga mengisyaratkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas apabila jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.














