JurnalPatroliNews – Washington – Presiden AS Donald Trump terus mengintensifkan upaya kebijakan “America First” dengan mengancam akan menerapkan tarif hingga 100% pada impor semikonduktor. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi agresif untuk mendorong manufaktur kembali ke tanah Amerika.
Ancaman ini, yang diumumkan Trump di Gedung Putih, akan dikecualikan bagi perusahaan yang telah memiliki atau berkomitmen membangun fasilitas manufaktur di AS. Pengumuman ini berbarengan dengan kabar baik dari Apple, yang menaikkan komitmen investasinya di sektor manufaktur AS menjadi US$600 miliar.
“Untuk perusahaan seperti Apple yang telah berkomitmen membangun [manufaktur] di AS, tak akan diberlakukan [tarif],” ujar Trump di Oval Office, dikutip dari Reuters, Kamis (7/8/2025). Â
Namun, peringatan keras disampaikan Trump kepada perusahaan yang mencoba mengelabui janji investasi. “Jika Anda mengatakan sedang membangun tetapi tidak, kami akan menagih Anda di kemudian hari,” tegasnya, mengisyaratkan konsekuensi finansial yang berat.
Meskipun pernyataan ini bukan pengumuman tarif resmi, dampaknya langsung terasa di seluruh dunia. Sejumlah negara dan perusahaan yang menjadi pemain kunci dalam industri chip langsung bereaksi.
Reaksi Global Beragam, Taiwan dan Korsel Amankan Posisi
Reaksi paling cepat datang dari Korea Selatan. Utusan perdagangan utama mereka menyatakan bahwa raksasa chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix akan dikecualikan dari tarif 100% berkat perjanjian perdagangan bilateral. Baik Samsung maupun SK Hynix memilih untuk tidak berkomentar.
Situasi berbeda dialami Filipina. Presiden industri semikonduktor setempat, Dan Lachica, khawatir rencana Trump akan “menghancurkan” negaranya. Hal serupa diungkapkan Menteri Perdagangan Malaysia, Tengku Zafrul Aziz, yang cemas negaranya bisa kehilangan pasar utama di AS.
Sementara itu, Taiwan sebagai pusat manufaktur chip global telah menunjukkan kesiapan. Menteri Dewan Pembangunan Nasional Taiwan, Liu Chin-ching, menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan mereka telah proaktif dengan membangun pabrik di AS atau bermitra dengan produsen lokal.
Perusahaan seperti TSMC, salah satu produsen kontrak chip terbesar dunia, dipandang relatif aman karena sudah memiliki fasilitas manufaktur di AS. Hal ini juga memberikan perlindungan bagi pelanggan utamanya, termasuk Nvidia, yang berencana menginvestasikan ratusan miliar dolar di AS.
“Perusahaan besar dan kaya uang tunai yang mampu membangun di AS akan menjadi yang paling diuntungkan. Ini adalah survival of the largest,” kata Brian Jacobsen, kepala ekonom di Annex Wealth Management.
Ancaman tarif ini muncul jelang berlakunya pungutan 10-50% pada pekan ini terhadap banyak barang dari mitra dagang AS. Hasil dari penyelidikan keamanan nasional AS mengenai tarif semikonduktor dan barang teknologi utama lainnya diperkirakan akan dirilis pada pertengahan Agustus mendatang.














