JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menyatakan bahwa serangan lanjutan terhadap Venezuela yang sebelumnya direncanakan tak lagi akan dilaksanakan.
Keputusan ini diambil setelah otoritas sementara di Caracas membebaskan banyak tahanan politik dalam beberapa hari terakhir sebuah langkah yang disebut Trump sebagai isyarat perdamaian.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan bahwa hubungan dengan pemerintah transisi Venezuela telah memperlihatkan kemajuan pasca operasi militer awal, termasuk pembebasan para tokoh oposisi, aktivis, dan jurnalis yang ditahan.
Menurut Trump, pembebasan itu merupakan tanda niat baik untuk membuka peluang dialog dan kerja sama yang lebih luas, sehingga rencana serangan gelombang kedua dibatalkan. Meski begitu, Trump menambahkan bahwa unit-unit militer AS di kawasan masih akan tetap berada di posisi strategis demi keamanan.
Selain keputusan militer, Trump juga menyampaikan dukungan untuk rencana investasi besar-besaran di sektor energi Venezuela. Ia menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar dari Amerika Serikat akan menanam modal setidaknya US$100 miliar untuk membangun ulang infrastruktur minyak dan gas negara itu, yang telah lama mengalami penurunan.
Trump menyebut akan mengadakan pertemuan dengan para eksekutif industri minyak di Gedung Putih untuk membahas hal ini.
Pembebasan tahanan sendiri dilakukan oleh pihak berwenang Venezuela pada 8 Januari 2026, dengan sejumlah tokoh menonjol termasuk Biagio Pilieri dan Enrique Márquez keduanya merupakan figur oposisi serta beberapa warga asing, termasuk pengacara hak asasi manusia asal Spanyol, Rocío San Miguel. Video yang beredar di media sosial menunjukkan momen emosional saat mereka bertemu kembali dengan keluarga usai keluar dari penjara.
Jorge Rodríguez, yang menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional dan juga saudara dari Presiden sementara Venezuela, menyebut tindakan ini sebagai “sinyal perdamaian” dari pemerintah Bolivarian. Menurutnya, langkah tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang lebih konstruktif di tengah transisi politik negara itu.
Walaupun sejumlah pihak menyambut baik pembebasan ini, kelompok-kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa tindakan itu tidak boleh sekadar simbolis atau manuver politik. Mereka menuntut agar upaya untuk mendemokratiskan sistem peradilan dan penahanan di Venezuela benar-benar berkelanjutan.
Sementara itu, tokoh oposisi María Corina Machado menganggap pembebasan ini sebagai bentuk restorasi moral, meskipun waktu yang hilang para tahanan tidak dapat dikembalikan. Ia menegaskan bahwa kebenaran dan keadilan pada akhirnya akan menang meskipun telah lama tertunda.














