Ia menegaskan bahwa bukti-bukti konspirasi tersebut sudah tak terbantahkan dan mengklaim bahwa tindakan mereka membahayakan stabilitas nasional Amerika Serikat.
Pernyataan Trump muncul tak lama setelah Tulsi Gabbard, mantan anggota DPR dari Partai Demokrat yang kini bersuara kritis terhadap partainya, menyerahkan laporan pidana kepada Departemen Kehakiman. Gabbard menyebut sejumlah pejabat era pemerintahan Obama telah merancang konspirasi sistematis untuk melemahkan kemenangan Trump lewat rekayasa data intelijen.
Menurut Gabbard, dugaan intervensi Rusia dalam Pilpres 2016 bukan murni temuan intelijen, melainkan skenario yang dikonstruksi dengan maksud politik tertentu. Ia bahkan menyebut tindakan itu sebagai “pengkhianatan” yang dilakukan oleh aparat negara terhadap presiden terpilih.
Lebih jauh, Gabbard menuding media-media arus utama seperti The Washington Post telah menjadi alat penyebaran narasi keliru, dengan menggulirkan isu manipulasi siber oleh Rusia tanpa dasar yang kuat.
Merespons laporan tersebut, Trump kembali mengunggah video provokatif di akun Truth Social miliknya. Video itu menampilkan pernyataan sejumlah tokoh Demokrat yang menegaskan bahwa “tak ada yang kebal hukum”, kemudian diakhiri dengan rekaman yang dimanipulasi menggunakan kecerdasan buatan (AI) — menampilkan seolah-olah Barack Obama ditangkap di Ruang Oval.
Sampai saat ini, belum ada komentar resmi dari Barack Obama, Presiden Joe Biden, maupun Hillary Clinton menanggapi tuduhan terbaru dari Trump.
Perlu dicatat bahwa penyelidikan dugaan campur tangan Rusia dalam Pilpres 2016 telah dilakukan oleh Penasihat Khusus Robert Mueller. Meski investigasi Mueller menyimpulkan adanya upaya nyata dari pihak Rusia untuk memengaruhi hasil pemilu, tidak ditemukan bukti keterlibatan langsung tim kampanye Trump dalam konspirasi tersebut.
Kendati demikian, Trump dan para pendukung setianya sejak awal menolak hasil penyelidikan tersebut dan menyebutnya sebagai manuver politik yang dirancang untuk menggagalkan legitimasinya sebagai presiden.














