Venezuela Klaim Gagalkan Aksi Teror Bom di Kedutaan AS

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengklaim bahwa aparat keamanannya berhasil menggagalkan rencana serangan bom yang ditujukan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Caracas. Serangan tersebut disebut sebagai aksi “false flag” yang dirancang untuk memperkeruh hubungan antara kedua negara.

Dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi nasional pada Selasa (7/10/2025), Maduro menyebut bahwa rencana itu diatur oleh kelompok teroris lokal yang ingin menanam bahan peledak di kompleks kedutaan.

“Kami menerima informasi dari dua sumber independen yang menyebut kelompok teroris lokal berencana menempatkan bahan peledak di Kedutaan AS di Caracas. Tujuannya untuk memperburuk konflik diplomatik dengan Washington,” ungkap Maduro, seperti dikutip dari AFP.

Jorge Rodriguez, Kepala Delegasi Dialog Venezuela-AS, juga menyampaikan bahwa pihaknya telah memberi peringatan kepada Pemerintah AS terkait ancaman serius dari kelompok ekstremis tersebut. “Kami telah memperketat langkah-langkah keamanan di misi diplomatik itu,” ujarnya.

Hubungan Venezuela dan Amerika Serikat diketahui sudah memburuk sejak lama. Kedua negara memutuskan hubungan diplomatik pada 2019.

Saat ini, Kedutaan AS di Caracas hanya beroperasi dengan staf lokal dalam jumlah terbatas. Namun Maduro menegaskan, misi diplomatik tersebut tetap mendapat perlindungan penuh.

“Walau hubungan kami renggang, itu tetap kedutaan yang kami lindungi,” tegasnya.

Ketegangan kedua negara makin memanas sejak AS menuduh Venezuela sebagai salah satu pusat peredaran narkoba di Amerika Latin.

Pada masa pemerintahan Donald Trump, AS bahkan mengerahkan kapal perang dan pesawat ke Karibia dalam operasi pemberantasan narkoba.

Trump kala itu menyatakan, “Kami menghentikan aliran narkoba pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Maduro menuduh operasi itu sebagai dalih untuk menggulingkan pemerintahannya. Sebagai respons, Venezuela meningkatkan kehadiran militer di perbatasan serta memperkuat milisi sipil.

Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul pula spekulasi bahwa pemimpin oposisi Maria Corina Machado bersembunyi di Kedutaan AS, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai kabar tersebut.