Ia menekankan bahwa konsep tersebut tidak berhenti pada aspek ekonomi, melainkan juga sosial. Pusat kuliner dapat menjadi ruang aman bagi anak muda untuk berkegiatan positif, wadah interaksi antarwarga, sekaligus sarana memperkuat identitas budaya Jakarta sebagai kota global yang tetap mengakar pada kearifan lokal.
Budi menjelaskan, setidaknya ada beberapa manfaat berlapis jika BKT dikembangkan sebagai pusat kuliner. Pertama, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kedua, memperkuat UMKM dari hulu hingga hilir, mulai dari petani, pemasok bahan baku, pedagang kecil, hingga jaringan usaha kuliner modern. Ketiga, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui aktivitas ekonomi resmi yang tertata.
Selain itu, BKT juga bisa menjadi instrumen untuk mengurangi ekses negatif kota besar. Kawasan kanal yang tertata akan mencegah munculnya praktik-praktik ilegal seperti pemanfaatan liar lahan kosong.
Dengan adanya kegiatan ekonomi resmi, remaja dan anak muda juga akan memiliki alternatif ruang interaksi yang lebih sehat dan produktif.
“BKT bisa menjadi jawaban untuk kebutuhan ruang publik produktif. Tidak sekadar ruang terbuka, tetapi pusat aktivitas kreatif masyarakat yang menghasilkan. Kalau ini terwujud, Jakarta akan punya ikon baru yang membanggakan,” tegasnya.
Gagasan Budi tidak berhenti di kuliner. Ia juga menilai BKT sangat potensial dikembangkan sebagai jalur transportasi air berbasis wisata. Kanal yang panjang dan lebar memungkinkan penggunaan perahu ramah lingkungan sebagai moda transportasi sekaligus atraksi wisata.
Setiap titik pemberhentian dapat dikombinasikan dengan kios UMKM, taman kota, dan pusat rekreasi keluarga. Dengan begitu, BKT akan memiliki fungsi ganda yaitu tetap menjalankan tugasnya sebagai pengendali banjir, sekaligus menjadi koridor ekonomi dan wisata baru.
“Bayangkan BKT bukan sekadar kanal, tapi juga jalur wisata air dengan pusat kuliner di setiap sisinya. Itu akan menjadi ikon baru Jakarta yang mendunia, seperti Clarke Quay di Singapura atau Sungai Cheonggyecheon di Seoul,” tambah Budi.
Konsep pusat kuliner BKT juga menempatkan UMKM sebagai tulang punggung utama. Budi menekankan bahwa skema kemitraan bisa diatur agar UMKM lokal mendapatkan tempat strategis. Misalnya, warung kopi tradisional bisa berdampingan dengan kafe internasional, atau jajanan pasar disandingkan dengan restoran modern.
Dengan pola ini, UMKM tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi justru bagian integral dari ekosistem kuliner BKT. Hal ini akan membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat identitas kuliner khas Jakarta.
“UMKM harus naik kelas. Di BKT, mereka bisa punya panggung besar. Bukan hanya jualan di gang sempit, tetapi tampil dalam konsep modern yang menarik, tetap menjaga kualitas dan identitas lokal,” katanya.
Budi juga menilai pengembangan BKT tidak harus sepenuhnya membebani APBD. Pemprov DKI bisa membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta melalui skema investasi jangka panjang. Investor dapat terlibat dalam pembangunan infrastruktur kuliner, transportasi air, hingga penyediaan energi ramah lingkungan.
Dengan keterlibatan swasta, risiko anggaran bisa ditekan, sementara pemerintah tetap memiliki kontrol dalam hal regulasi dan tata kelola. Skema ini sekaligus membuka peluang Jakarta untuk menjadi model kota kolaboratif yang mampu mengoptimalkan aset publik tanpa membebani keuangan daerah secara berlebihan.
Lebih jauh, Budi menekankan bahwa pengembangan BKT bisa menjadi legacy atau warisan penting bagi kepemimpinan gubernur Jakarta.
Jika ide ini berhasil diwujudkan, maka gubernur yang berani mengambil langkah tersebut akan dikenang sebagai pemimpin visioner yang mampu mengubah kanal pengendali banjir menjadi ikon ekonomi dan budaya baru.














