Lahan Tidur Super Mahal, Budi Mulyawan Ingin Sulap BKT Jadi Pusat Kuliner Hijau

“Seorang gubernur bisa meninggalkan warisan berharga lewat pembangunan BKT. Tidak hanya tercatat dalam sejarah karena mengelola banjir, tetapi juga karena menghadirkan ikon kota yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Budi.

Budi juga menyinggung bahwa banyak kota besar dunia berhasil mengubah kanal atau sungai menjadi pusat aktivitas ekonomi. Sungai Cheonggyecheon di Seoul, misalnya, disulap menjadi ruang publik yang memadukan fungsi ekologi dan rekreasi, menarik jutaan wisatawan setiap tahun.

Sementara Clarke Quay di Singapura menjadi destinasi kuliner dan hiburan kelas dunia yang tetap mempertahankan karakter sungai sebagai elemen utama.

“Jakarta tidak kalah. Kita punya BKT yang panjang, lebar, dan mahal. Tinggal bagaimana keberanian pemerintah menjadikannya proyek unggulan. Kalau berhasil, dampaknya akan besar sekali,” ujarnya.

Budi menegaskan bahwa usulan ini bukan sekadar ide utopis, melainkan bentuk kepedulian nyata sebagai warga Jakarta.

Melalui Jaya Center Foundation (Yayasan Jakarta Menyala Center), ia berharap Pemprov DKI Jakarta membuka ruang dialog untuk membahas konsep tersebut lebih lanjut.

“Jaya Center Foundation mengusulkan konsep ini bukan sekadar ide, tetapi bentuk kepedulian, tanggung jawab, dan partisipasi warga Jakarta. BKT harus bermanfaat, punya nilai tambah, dan membanggakan warganya,” tegasnya.

Dengan nilai investasi triliunan rupiah dan luas lahan yang tak ternilai, BKT sejatinya merupakan aset yang tidak boleh dibiarkan tidur. Jika berhasil dikembangkan, kanal ini bukan hanya akan menjadi solusi banjir, tetapi juga pusat kuliner, ruang publik kreatif, jalur wisata air, dan ikon baru Jakarta yang mendunia.**