JurnalPatroliNews | Lombok Timur — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat kompetensi tenaga kerja sektor pariwisata melalui pelatihan khusus bagi pemandu wisata gunung di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Program tersebut dikemas melalui Tailor Made Training (TMT) yang diselenggarakan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lombok Timur bersama Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) NTB pada 15–18 Agustus 2026.
Sebanyak 17 peserta dari NTB dan sejumlah daerah lainnya mengikuti pelatihan yang menjadi batch pertama tersebut. Program selanjutnya akan dikembangkan melalui batch berikutnya dengan cakupan peserta yang lebih luas.
Kemnaker berharap pelatihan tersebut mampu memperbanyak tenaga pemandu gunung yang memiliki kompetensi profesional sekaligus memahami standar keselamatan dan kebutuhan industri pariwisata.
Direktur Bina Standardisasi Kompetensi dan Program Pelatihan (Stankomproglat) Kemnaker Abdullah Qiqi Asmara mengatakan profesi pemandu gunung memiliki posisi penting dalam menjamin keselamatan dan kenyamanan wisatawan selama melakukan aktivitas pendakian.
Menurut Qiqi, seorang pemandu tidak hanya bertugas mengantar wisatawan menuju tujuan pendakian. Mereka harus memiliki kemampuan membaca karakter medan, menghadapi kondisi darurat, berkomunikasi dengan wisatawan, serta memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
“Pemandu gunung bukan sekadar orang yang mengantarkan wisatawan menuju puncak. Mereka memiliki tanggung jawab untuk memastikan perjalanan berlangsung aman,” ujar Qiqi dalam keterangan melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Jumat (21/8/2026).
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan wisatawan mendapatkan pelayanan yang aman, profesional, dan berkualitas.
Qiqi menjelaskan konsep Tailor Made Training dirancang berdasarkan kebutuhan pekerjaan serta karakteristik peserta. Dengan pendekatan tersebut, materi pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata yang dihadapi para pemandu ketika menjalankan tugas di kawasan pendakian.
“Melalui Tailor Made Training, peserta memperoleh keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan sehingga dapat diterapkan dalam situasi nyata di lapangan,” katanya.
Model pelatihan tersebut dinilai relevan untuk sektor pariwisata alam yang memiliki karakteristik pekerjaan berbeda dengan bidang pariwisata lainnya.
Peserta dibekali keterampilan pemanduan yang mengacu pada standar kompetensi sehingga mampu menjalankan tugas sesuai tuntutan profesi.
Kemnaker juga menilai kerja sama antara BPVP Lombok Timur dan APGI NTB menjadi contoh penting dalam membangun ekosistem pelatihan vokasi yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri.
Keterlibatan pemerintah, lembaga pelatihan, asosiasi profesi, dan pelaku sektor pariwisata dinilai dapat memperkuat relevansi program pelatihan sekaligus memastikan kompetensi yang diberikan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem pelatihan vokasi yang melibatkan pemerintah, lembaga pelatihan, asosiasi profesi, dan sektor pariwisata,” ujar Qiqi.
Menurutnya, pola kolaborasi semacam itu diperlukan agar lulusan pelatihan memiliki kompetensi yang benar-benar dapat digunakan dalam dunia kerja.
Selain aspek teknis pemanduan, pelatihan juga diarahkan untuk membangun kesadaran terhadap keselamatan wisatawan dan kelestarian lingkungan.
Qiqi berharap para peserta mampu bekerja secara profesional dengan menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas pendakian.
Pemandu juga diharapkan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan kawasan wisata alam sehingga kegiatan pariwisata tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
“Kualitas sumber daya manusia yang semakin baik mampu memberikan kontribusi terhadap pengelolaan destinasi pendakian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di NTB,” pungkasnya.
Program pelatihan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja pariwisata sekaligus memperkuat daya tarik NTB sebagai destinasi wisata alam yang aman, profesional, dan berkelanjutan.














Komentar