JurnalPatroliNews | Singkawang — Kondisi cuaca yang belakangan kurang bersahabat di Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan transportasi udara untuk bepergian dari dan menuju Kota Singkawang.
Penurunan jarak pandang akibat kabut asap dinilai dapat memengaruhi kepastian operasional penerbangan. Karena itu, Pengamat Transportasi Intermoda Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie, AH.PNB., SE., SSIT., mengingatkan masyarakat agar tidak semata-mata mempertimbangkan harga dan jarak ketika memilih bandara.
Menurut Syarif, kondisi fasilitas navigasi dan alat bantu pendaratan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan, terutama ketika cuaca mengalami penurunan jarak pandang.
Imbauan tersebut disampaikan Syarif sebagai bagian dari edukasi publik menyikapi kondisi operasional Bandara Singkawang yang, menurutnya, belum dilengkapi Instrument Landing System (ILS).
“Kita semua tahu bahwa cuaca tidak bisa diprediksi kapan akan baik dan kapan akan buruk. Ketika fasilitas alat bantu pendaratan instrumen seperti ILS tidak tersedia, kondisi visibility yang rendah akibat kabut, hujan deras, atau asap dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penundaan maupun pengalihan penerbangan ke bandara lain,” ujar Syarif dalam pernyataan tertulis, Selasa (25/8/2026).
Ia menjelaskan, fasilitas navigasi dan sistem pendaratan memiliki peran penting dalam mendukung penerbangan, khususnya ketika kondisi lingkungan tidak ideal. Tanpa dukungan fasilitas tertentu, operasi penerbangan dapat lebih bergantung pada kondisi cuaca, prosedur pendekatan yang tersedia, kemampuan pesawat dan awak, serta batas-batas operasi yang ditetapkan demi keselamatan.
Bagi penumpang, dampaknya bukan hanya soal terlambat tiba di tujuan. Penundaan atau pengalihan penerbangan juga dapat memengaruhi agenda perjalanan, biaya tambahan, hingga rencana transportasi lanjutan yang telah dipersiapkan.
Karena itu, Syarif menyarankan masyarakat untuk melakukan pertimbangan lebih matang sebelum membeli tiket, terutama bagi mereka yang memiliki agenda dengan jadwal ketat.
“Jika waktu dan ketepatan jadwal menjadi hal yang sangat krusial, masyarakat sebaiknya mempertimbangkan menggunakan bandara yang memiliki fasilitas navigasi dan pendukung operasional yang lebih lengkap, sehingga risiko gangguan penerbangan akibat kondisi cuaca dapat diminimalkan,” katanya.
Supadio Jadi Alternatif
Salah satu bandara yang disebut Syarif dapat menjadi pilihan adalah Bandara Internasional Supadio di Kubu Raya/Pontianak.
Menurutnya, bandara dengan fasilitas pendukung penerbangan yang lebih lengkap dapat dipertimbangkan oleh masyarakat yang menempatkan kepastian perjalanan sebagai salah satu prioritas utama.
“Pilihlah bandara yang memberikan kepastian perjalanan, aman dan nyaman. Penerbangan dengan pendekatan visual maupun instrumen sama-sama dapat dilakukan secara aman selama memenuhi prosedur, batas operasi, dan ketentuan keselamatan,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa ketika kondisi cuaca memburuk hingga jarak pandang berada di bawah batas yang dipersyaratkan, penerbangan tetap harus mengikuti ketentuan keselamatan yang berlaku. Dalam situasi tersebut, penumpang perlu memahami bahwa penundaan atau pengalihan penerbangan merupakan bagian dari langkah keselamatan.
“Masyarakat sendiri yang akan merasakan dampaknya melalui penundaan atau pengalihan penerbangan,” sambungnya.
Syarif menilai masyarakat tidak perlu memaksakan keberangkatan apabila kondisi cuaca memang tidak memenuhi persyaratan operasional. Di saat yang sama, pengguna jasa penerbangan juga dinilai berhak memperoleh informasi yang memadai mengenai kemampuan serta fasilitas bandara yang akan digunakan.
Karena itu, ia meminta calon penumpang mulai mengubah pola pertimbangan ketika memilih penerbangan. Harga tiket dan jarak tempuh, kata dia, bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhitungkan.
“Kita harus cerdas melihat risiko ini sebelum membeli tiket. Jangan hanya melihat jarak dan harga tiket, tetapi juga pertimbangkan fasilitas bandara, kondisi operasional, serta kemungkinan terjadinya gangguan penerbangan ketika cuaca tidak bersahabat,” tambahnya.
Keselamatan Tidak Boleh Dicoba-coba
Lebih jauh, Syarif menekankan bahwa pengoperasian bandara tidak boleh dilakukan dengan pendekatan coba-coba. Menurutnya, setiap aspek yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan harus dipastikan sebelum fasilitas bandara dioperasikan secara optimal.
“Untuk mengoperasikan bandara jangan pernah coba-coba. Ini menyangkut keselamatan dan nyawa masyarakat, sekaligus menyangkut kedaulatan negara,” tegasnya.
Ia menilai standar keselamatan, keamanan, fasilitas navigasi, serta prosedur operasional harus menjadi perhatian utama. Langkah tersebut penting agar pengembangan konektivitas udara tidak mengorbankan aspek keselamatan maupun kepastian pelayanan kepada masyarakat.
Melalui edukasi tersebut, Syarif berharap masyarakat Kalimantan Barat semakin memahami bahwa memilih bandara bukan sekadar persoalan tarif dan jarak. Faktor fasilitas, kondisi cuaca, kemampuan operasional, dan potensi gangguan penerbangan juga perlu diperhitungkan sejak awal.
Pada akhirnya, kepastian perjalanan tetap harus berjalan beriringan dengan prinsip utama penerbangan sipil: keselamatan menjadi prioritas yang tidak dapat ditawar.















Komentar