Dolar AS Mulai Tertekan, Rupiah Menguat 104 Poin: Apa yang Bakal Terjadi Senin?

JurnalPatroliNews | Jakarta — Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan ketiga Agustus 2026 dengan kinerja positif. Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan Jumat (21/8/2026) di level Rp17.694 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 104 poin atau sekitar 0,58 persen dibandingkan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya di Rp17.798 per dolar AS.

Penguatan tersebut tidak berlangsung mulus sepanjang pekan. Rupiah sempat mendapat tekanan pada perdagangan Selasa setelah dibuka di Rp17.850 dan berakhir di Rp17.862 per dolar AS. Namun, tekanan tersebut segera berbalik pada perdagangan hari-hari berikutnya.

Pada Senin (17/8), rupiah ditutup menguat 29 poin ke level Rp17.798 per dolar AS. Sehari kemudian, rupiah melemah 64 poin dan berada di Rp17.862.

Momentum pembalikan arah mulai terlihat pada Rabu (19/8). Rupiah mengakhiri perdagangan di Rp17.840 per dolar AS, atau menguat 22 poin dari posisi sehari sebelumnya.

Penguatan semakin kuat pada Kamis (20/8). Rupiah melesat 92 poin hingga ditutup pada Rp17.748 per dolar AS. Tren tersebut kemudian berlanjut pada perdagangan terakhir pekan.

Pada Jumat (21/8), rupiah kembali menguat 54 poin atau 0,30 persen dan mengakhiri perdagangan di Rp17.694 per dolar AS.

Data Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Pada 21 Agustus 2026, JISDOR berada di Rp17.705 per dolar AS, membaik dari Rp17.779 pada hari sebelumnya.

Salah satu faktor domestik yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari sinyal Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertimbangkan dinamika perekonomian nasional dan global.

Di sisi eksternal, pergerakan rupiah turut dipengaruhi perkembangan pasar keuangan Amerika Serikat.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai rencana Departemen Keuangan AS meningkatkan program pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah bertenor panjang menjadi sedikitnya US$4 miliar dalam setiap operasi berpotensi memberikan sentimen terhadap pasar global.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk membantu menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang. Jika tekanan terhadap yield Treasury berkurang, ruang pergerakan dolar AS secara global juga dapat berubah dan ikut memengaruhi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (24/8/2026). Namun, mata uang Garuda diproyeksikan berada dalam kecenderungan menguat pada kisaran Rp17.640 hingga Rp17.700 per dolar AS.

Untuk keseluruhan perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.600-Rp17.900 per dolar AS.

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati sejumlah risiko eksternal. Perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah serta kondisi fiskal Amerika Serikat menjadi faktor yang berpotensi memicu volatilitas pasar valuta asing.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada akhir pekan belum serta-merta menghilangkan risiko tekanan. Arah mata uang Garuda pada pekan berikutnya masih akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global, pergerakan dolar AS, serta respons pasar terhadap kebijakan moneter dan fiskal negara-negara utama.

Bagi pasar domestik, stabilitas rupiah menjadi salah satu indikator penting yang akan terus dicermati, terutama di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Komentar