UMY Soroti Tantangan Generasi Digital: Rapuh di Dunia Nyata Meski Pede di Dunia Maya

JurnalPatroliNews – Jakarta – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadapi fenomena sosial baru yang tengah melanda anak muda, dikenal sebagai generasi cemas atau the anxious generation.

Fenomena ini muncul seiring dengan perubahan besar dalam cara interaksi generasi digital, yang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya dibandingkan dengan lingkungan sosial nyata.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Prof Faris Al-Fadhat, menjelaskan bahwa generasi muda yang lahir pada 2010-2015 kini menjadi mahasiswa UMY dan mengalami pergeseran pola bermain serta belajar yang signifikan.

“Anak-anak yang tumbuh antara 2010-2015 kini bermain lebih banyak sendiri melalui layar ponsel, bukan lagi bermain bersama teman di lapangan atau lingkungan sekitar. Akibatnya, kemampuan sosial, empati, dan pengendalian diri berkembang dalam konteks yang berbeda,” jelas Faris, Minggu (19/10/2025).

Faris menilai bahwa tantangan terbesar bagi generasi muda bukan hanya soal teknologi, melainkan dampaknya pada keseimbangan emosional dan kemampuan sosial. Terlalu lama berada di depan layar membuat mereka kesulitan membangun interaksi sosial yang sehat.

“Terlalu banyak waktu di depan layar mengubah cara berpikir dan cara berinteraksi, sehingga generasi digital seringkali tampak percaya diri di dunia maya, namun rapuh saat berhadapan dengan dunia nyata,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa dunia pendidikan harus segera beradaptasi dengan perubahan ini. Pembinaan soft skills seperti komunikasi, empati, dan kepemimpinan di lingkungan kampus sangat penting agar mahasiswa tidak hanya unggul akademik, tetapi juga matang secara sosial.

“Dari 10 lulusan baru, enam di antaranya gagal bertahan di dunia kerja karena kurang memiliki keterampilan sosial dan kepemimpinan. Ini menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan,” tambahnya.

Faris juga menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi tempat pembentukan karakter dan moral yang kuat, dengan kepemimpinan dan akhlak karimah yang tumbuh dari interaksi dan kontribusi nyata kepada masyarakat.