Hanya Butuh 8 Jam, Mesin Rapid Digester Somya Mampu Pangkas Volume Sampah Hingga 95 Persen

JurnalPatroliNews – Jakarta – Persoalan pelik mengenai penumpukan sampah organik yang terus melanda berbagai daerah di Indonesia memicu lahirnya terobosan teknologi pengelolaan lingkungan yang masif.

Salah satu inovasi mutakhir datang dari PT Enviro Mas Sejahtera yang secara resmi memperkenalkan mesin pengolah sampah organik cepat atau rapid digester bernama Somya.

Peluncuran perangkat teknologi ramah lingkungan buatan dalam negeri tersebut dilakukan di tengah perhelatan ajang pameran industri hijau bergengsi, Envirotech, di Jakarta.

Mesin Somya diklaim memiliki kemampuan mekanis untuk mengolah sampah organik menjadi substansi siap kompos secara kilat dengan durasi waktu hanya delapan jam.

Selain memangkas waktu pemrosesan secara signifikan, implementasi teknologi ini juga mampu mereduksi total volume sampah di lokasi terpasang hingga mencapai 95 persen.

Founder PT Enviro Mas Sejahtera, Anak Agung Ngurah Panji Astika ST, menegaskan bahwa Somya sengaja dirancang sebagai solusi taktis yang berfokus pada penanganan sampah langsung dari sumbernya.

“Mesin ini tidak menghasilkan emisi gas berbahaya seperti karbon dioksida, metana maupun hidrogen sulfida. Selain itu tidak menimbulkan bau dan tidak bising saat beroperasi,” ujar Panji di sela pameran Envirotech, Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Demi mempermudah jalannya operasional, mesin Somya telah dipersenjatai dengan teknologi cerdas Human Interface Machine (HMI) berbasis layar sentuh serta integrasi sistem Internet of Things (IoT).

Keberadaan fitur digital tersebut memungkinkan para operator untuk memantau serta mengendalikan laju kinerja mesin dari jarak jauh, termasuk memonitor fluktuasi suhu dan kapasitas tampung secara real time.

Kalkulasi Efisiensi Operasional dan Urgensi Penanganan Sampah Organik

Panji memaparkan bahwa lini produk Somya diproduksi dalam berbagai varian kapasitas guna menyesuaikan kebutuhan spesifik dari para penggunanya di lapangan.

Untuk varian terkecil yakni tipe SCD 50, mesin ini memiliki daya tampung pengolahan sebesar 50 kilogram sampah organik untuk satu siklus kerja selama delapan jam.

Secara teknis, mesin tipe ini membutuhkan pasokan daya listrik sebesar 3.000 watt dengan total konsumsi energi berkisar di angka 15 kWh per siklus pengoperasian.

Jika dikonversikan ke dalam nilai mata uang, biaya operasional riil yang dibutuhkan tergolong sangat ekonomis, yakni hanya berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 saja.

Volume pengolahan seberat 50 kilogram tersebut dinilai setara dengan total produksi sampah organik harian yang dihasilkan oleh sekitar 50 kepala keluarga atau rumah tangga.

Selain menyediakan tipe domestik, pihak perusahaan juga siap memasok mesin Somya dalam skala industri dengan kapasitas pengolahan masif hingga puluhan ton per hari.

Berkat dimensi fisik yang relatif ringkas, unit mesin Somya memiliki fleksibilitas tinggi untuk ditempatkan di area perumahan, perkantoran, restoran, hotel, hingga kawasan destinasi wisata.

Langkah strategis memutus rantai pasok sampah langsung di hulu ini dinilai menjadi kunci utama dalam menekan angka ketergantungan daerah terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Lebih lanjut, Panji menyoroti data komposisi sampah nasional yang menunjukkan bahwa sektor sampah organik masih mendominasi dengan porsi mencapai hampir 70 persen.

Dirinya menyayangkan arah kebijakan publik selama ini yang cenderung terlalu fokus pada penanganan limbah plastik, padahal porsinya secara nasional hanya sekitar 15 persen.

Menurutnya, jika tata kelola sampah organik dapat dituntaskan sejak dari sumber awal, maka komoditas sampah non-organik yang tersisa akan jauh lebih bersih dan higienis.

Kondisi tersebut secara otomatis akan membuat mata rantai proses daur ulang sampah kering menjadi jauh lebih mudah serta berbiaya murah bagi industri terkait.

Nilai Ekonomi Pupuk Kompos dan Perluasan Ekspansi Kerja Sama Korporasi

Di samping memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan hidup, hasil keluaran dari pemrosesan mesin Somya juga memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan.

Material matang yang dihasilkan dari sisa pemrosesan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk diolah kembali menjadi produk pupuk organik siap pakai.

PT Enviro Mas Sejahtera yang telah berkiprah di industri pengelolaan lingkungan selama 26 tahun kini terus bergerak agresif memperluas penetrasi teknologi komposting cepat ini.

Perusahaan dilaporkan telah menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah instansi, termasuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Kerja sama dengan PT KAI tersebut difokuskan pada pengadaan dan penempatan unit mesin Somya di sejumlah stasiun kereta api guna menjaga kebersihan fasilitas publik.

Hingga saat ini, adopsi teknologi pengolahan sampah mandiri tersebut juga mulai diimplementasikan secara luas di jaringan perhotelan, restoran besar, hingga kompleks perkantoran milik PLN.

Melalui lompatan teknologi ini, PT Enviro Mas Sejahtera optimistis mampu memicu gerakan kemandirian pengelolaan sampah yang masif dari tingkat RT, RW, hingga komunitas terkecil di Indonesia.

Komentar