JurnalPatroliNews | Jakarta — Ancaman keamanan siber kini tidak lagi berhenti pada upaya menembus sistem, jaringan atau infrastruktur teknologi. Celah yang semakin sering dimanfaatkan justru berada di balik layar perangkat: manusia sebagai pengguna.
Pelaku kejahatan siber menggunakan berbagai teknik manipulasi psikologis untuk membuat korban menyerahkan informasi, mengeklik tautan berbahaya, memasang aplikasi tertentu atau melakukan transaksi tanpa menyadari risikonya.
Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam seminar “Now You See: Now You Aware” yang digelar Akar Inti Enterprise di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).
Seminar tersebut mengangkat persoalan yang semakin relevan di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan digital. Teknologi keamanan dapat dibuat semakin canggih, tetapi pertahanan digital tetap dapat runtuh ketika pengguna berhasil dimanipulasi.
CEO Akar Inti Enterprise Astari Kartika Hadinata mengatakan perkembangan kejahatan siber tidak selalu diikuti peningkatan kesadaran masyarakat.
“Kejahatan siber meningkat pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, tetapi kesadaran atas ancaman tersebut belum tinggi,” ujar Astari.
Menurut dia, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keamanan digital bukan hanya persoalan perangkat lunak maupun infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan perilaku setiap orang yang menggunakan teknologi.
Pelaku tidak selalu membutuhkan kemampuan teknis untuk membobol sistem ketika pengguna sendiri bersedia membuka akses.
Salah satu metode yang banyak digunakan adalah social engineering, yakni teknik manipulasi untuk memengaruhi seseorang agar melakukan tindakan yang menguntungkan pelaku.
Caranya dapat sangat sederhana.
Korban bisa menerima pesan yang menginformasikan dirinya memenangkan hadiah, memperoleh voucher, mendapatkan penawaran khusus atau menghadapi masalah pada rekening.
Dalam kondisi panik, penasaran atau terlalu gembira, seseorang dapat bertindak tanpa melakukan pemeriksaan ulang.
Senior Adviser Fraud Banking Investigation BCA sekaligus Ketua Komite Cyber Fraud Perbanas Wani Sabu mengatakan kasus penipuan yang berawal dari social engineering di sektor perbankan masih menjadi persoalan serius.
Ia menyebut kasus yang berawal dari teknik tersebut mencapai sekitar 99 persen, berdasarkan pengalaman dan konteks penanganan fraud yang ia paparkan dalam forum tersebut.
Angka itu harus dipahami sebagai pernyataan narasumber dalam konteks sektor yang dibahas, bukan sebagai angka yang secara otomatis menggambarkan seluruh kejahatan siber di Indonesia.
Wani menjelaskan pelaku biasanya memanfaatkan emosi korban.
Rasa senang karena menerima informasi hadiah dapat membuat seseorang kehilangan kewaspadaan. Sebaliknya, rasa cemas juga dapat dimanfaatkan melalui modus pemberitahuan bahwa rekening bermasalah atau kartu harus segera diverifikasi.
“Banyak personal yang jarang periksa ulang apabila ada orang asing mengontak menawarkan hadiah, tautan tidak jelas. Biasakan jangan FOMO, jangan mengunduh aplikasi yang tidak perlu, pada intinya harus periksa ulang,” kata Wani.
Pesannya sederhana: jangan mengambil keputusan digital hanya karena takut ketinggalan atau merasa harus bertindak segera.
Modus social engineering berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat menggunakan layanan digital.
Pelaku dapat mengaku sebagai customer service bank, petugas kartu kredit, perusahaan asuransi, marketplace, jasa pengiriman atau instansi tertentu.
Mereka kemudian membangun percakapan yang terlihat meyakinkan untuk mendapatkan informasi sensitif maupun mendorong korban membuka tautan tertentu.
Dalam banyak kasus, keberhasilan pelaku tidak bergantung pada kerumitan serangan teknologi, tetapi pada kemampuan menciptakan situasi yang membuat korban tidak sempat berpikir panjang.
Masalahnya, pengguna sering menganggap klik sebuah tautan sebagai tindakan sederhana.
Padahal, tautan yang tidak dikenal dapat mengarah pada situs palsu, formulir pencurian data atau proses yang mendorong pengguna memasang aplikasi berbahaya.
Karena itu, kebiasaan melakukan verifikasi menjadi lapisan pertahanan awal.
Memastikan identitas pengirim, mengecek alamat situs dan menggunakan kanal resmi perusahaan dapat mengurangi risiko sebelum pengguna melakukan tindakan lebih jauh.
Sebagai system integrator, Akar Inti Enterprise melihat keamanan harus dibangun melalui kombinasi teknologi dan kesadaran manusia.
Astari menilai perusahaan dapat memasang sistem keamanan berlapis, tetapi faktor manusia tetap memiliki posisi penting dalam keseluruhan ekosistem.
“Ancaman siber hari ini tidak lagi hanya menyerang sistem, tetapi manusianya. Secanggih apa pun teknologi yang kita bangun, kesadaran setiap individu tetap menjadi kunci utama,” ujar Astari.
Karena itu, edukasi keamanan tidak seharusnya hanya diberikan kepada tenaga teknologi informasi.
Kesadaran keamanan digital idealnya menjadi budaya di seluruh organisasi maupun lingkungan keluarga.
Pegawai administrasi, bagian keuangan, pimpinan perusahaan hingga pengguna layanan perbankan sama-sama memiliki potensi menjadi sasaran.
Satu akun yang berhasil diambil alih dapat membuka jalan terhadap serangan berikutnya.
Itulah sebabnya kebiasaan sederhana, seperti tidak sembarangan membagikan kode autentikasi, tidak menginstal aplikasi dari sumber tidak jelas dan melakukan verifikasi identitas pengirim, memiliki nilai pertahanan yang besar.
Seminar tersebut juga menghadirkan Dendi Zuckergates, Founder Orang Siber Indonesia sekaligus praktisi cybersecurity dan OSINT.
Ia membawakan topik “Think Like Hacker, Protect Like a Defender”.
Pendekatan tersebut menekankan pentingnya memahami cara berpikir penyerang agar pengguna dan organisasi dapat mengenali pola ancaman sejak awal.
Dengan memahami bagaimana sebuah serangan dirancang, pengguna memiliki peluang lebih besar untuk mengenali tanda-tanda manipulasi sebelum menjadi korban.
Sementara itu, Wani Sabu membawakan materi “Inside Banking: How Fraud Really Happens and How to Stay Aware”.
Perspektif industri perbankan tersebut penting karena modus penipuan digital berkembang seiring meningkatnya transaksi tanpa tatap muka.
Penyerang tidak selalu menargetkan sistem bank secara langsung. Mereka dapat menyerang titik paling rentan dalam rantai keamanan, yakni nasabah atau pengguna.
Salah satu pesan utama yang muncul dalam seminar adalah pentingnya mengendalikan respons emosional ketika menerima informasi digital.
Rasa takut tertinggal atau FOMO (fear of missing out) dapat membuat pengguna terburu-buru mengambil keputusan.
Begitu pula rasa panik ketika menerima pesan bahwa rekening akan diblokir atau kartu bermasalah.
Pelaku memanfaatkan tekanan waktu agar korban tidak sempat memverifikasi informasi.
Karena itu, semakin mendesak sebuah pesan meminta tindakan, semakin penting pengguna melakukan pengecekan ulang.
Dalam kesempatan yang sama, Akar Inti Enterprise memperkenalkan Mokio, produk API testing simulator yang dikembangkan untuk membantu proses pengujian API.
Mokio dirancang agar dapat digunakan tidak hanya oleh developer, tetapi juga pengguna yang tidak memiliki kemampuan pemrograman karena pengujian dapat dilakukan tanpa menulis kode.
Pengunjung seminar dapat mencoba langsung produk tersebut melalui stan Akar Inti Enterprise.
Kehadiran Mokio memperlihatkan bahwa pembahasan keamanan dalam seminar tersebut tidak hanya berhenti pada edukasi pengguna.
Pengujian API merupakan salah satu bagian penting dalam pengembangan aplikasi digital karena API menjadi jalur komunikasi antarsistem.
Semakin banyak layanan digital saling terhubung, semakin penting pula pengujian dilakukan untuk mengidentifikasi potensi masalah sebelum sistem digunakan secara luas.
Pelajaran utama dari seminar tersebut bukan bahwa teknologi keamanan tidak penting.
Sebaliknya, teknologi tetap menjadi fondasi pertahanan. Namun, sistem keamanan membutuhkan pengguna yang mampu mengenali ancaman dan tidak dengan mudah memberikan akses kepada pihak yang tidak semestinya.
Serangan social engineering menunjukkan bahwa pelaku bisa mencari jalan paling sederhana menuju target.
Ketika sistem sulit ditembus, manusia dapat menjadi pintu masuk yang lebih murah.
Karena itu, keamanan siber pada akhirnya merupakan tanggung jawab bersama.
Pengguna harus membiasakan diri berhenti sejenak sebelum mengeklik tautan, memberikan data, memasang aplikasi atau mengikuti instruksi dari kontak yang belum terverifikasi.
Organisasi juga perlu membangun edukasi berkelanjutan agar karyawan tidak hanya memahami teknologi, tetapi mampu mengenali pola manipulasi.
Pesan yang mengemuka dari seminar “Now You See: Now You Aware” sangat sederhana: jangan mudah percaya, jangan terburu-buru, dan selalu lakukan verifikasi.
Di tengah ancaman siber yang semakin personal, kesadaran pengguna bukan lagi pelengkap sistem keamanan. Kesadaran manusia justru menjadi benteng pertama sebelum teknologi pertahanan bekerja.















Komentar