Dalam hal pemanfaatan aset publik, Budi menegaskan pentingnya optimalisasi aset pemerintah untuk kepentingan masyarakat. Lahan tidur dan aset tidak produktif harus diberi peran baru agar memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga, seperti dijadikan lahan usaha, pasar rakyat, atau ruang pertanian urban.
Akses formal dan adil bagi masyarakat menjadi kunci agar keberadaan aset publik tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Salah satu aset pemerintah yang dinilai sangat potensial adalah lahan di sekitar Banjir Kanal Timur (BKT).
Budi Mulyawan, melalui Jaya Center Foundation, sudah sejak lama mengusulkan pengembangan BKT sebagai pusat kuliner modern (branded) yang ramah lingkungan dan multifungsi, sekaligus pusat aktivitas ekonomi dan ruang publik kreatif.
Usulan tersebut diperluas kembali dalam kesempatan ini, sejalan dengan kebutuhan Jakarta untuk menghadirkan ikon baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Usulan tersebut kembali digaungkan di sela persiapan acara Jakarta Millenial Film Festival 2026 (workshop dan festival film pendek, Jawa – Bali) yang akan digelar kembali oleh Jaya Center Foundation, setelah suksesnya pelaksanaan Jakarta Millenial Film Festival 2025.
“BKT adalah lahan super mahal yang sampai hari ini lebih banyak dibiarkan tidur. Seharusnya, Pemprov DKI Jakarta menjadikannya pusat aktivitas ekonomi yang multifungsi, ramah lingkungan, sekaligus bisa menjadi warisan berharga bagi gubernur yang berani mengeksekusi ide besar ini,” kata Budi Mulyawan.
Dibangun sebagai kanal pengendali banjir sepanjang 23,5 kilometer dengan lebar hingga 300 meter, BKT telah menelan biaya sekitar Rp4,9 triliun. Dengan investasi sebesar itu, BKT seharusnya dapat memberi nilai tambah yang jauh lebih besar.
Sayangnya, sebagian besar area di sekitarnya masih berupa ruang terbuka kosong yang tidak produktif.
Melihat kondisi tersebut, Budi mengajukan konsep besar: menjadikan BKT sebagai pusat kuliner terintegrasi di atas saluran air yang mengalir (sistem tumpang sari), lengkap dengan restoran, kafe, hingga kios UMKM makanan khas daerah. BKT tidak hanya akan berfungsi sebagai kanal, tetapi juga pusat interaksi sosial dan ekonomi baru.
“Bayangkan jika di sepanjang BKT berdiri pusat kuliner yang terintegrintegrasi. Kanal ini bisa hidup, menjadi ruang publik produktif yang aman dan menarik,” ujarnya.
Pusat kuliner tersebut, menurut Budi, akan menyerap banyak tenaga kerja, menggerakkan UMKM dari hulu ke hilir, dan meningkatkan pendapatan daerah melalui aktivitas ekonomi yang tertata. Selain itu, kawasan kanal yang tertata akan mengurangi praktik pemanfaatan liar lahan kosong, sekaligus menyediakan ruang sehat bagi anak muda untuk berkegiatan positif.
Tidak berhenti di situ, Budi mengusulkan pengembangan wisata air berbasis transportasi ramah lingkungan sepanjang BKT. Kanal yang panjang dan lebar sangat memungkinkan penggunaan perahu wisata dengan titik-titik pemberhentian yang terhubungkan dengan taman kota, kios UMKM, dan pusat rekreasi keluarga.














