Jakarta Menuju Kota Global Berkeadilan, Budi Mulyawan Tekankan Pentingnya Optimalisasi BKT

Konsep ini menempatkan BKT sebagai kanal multifungsi—pengendali banjir sekaligus koridor ekonomi kreatif dan wisata baru Jakarta.

“Bayangkan BKT bukan sekadar kanal, tapi juga jalur wisata air dengan pusat kuliner di setiap sisinya. Itu akan menjadi ikon baru Jakarta yang mendunia, seperti Clarke Quay di Singapura atau Sungai Cheonggyecheon di Seoul,” tegas Budi.

Ia menekankan bahwa UMKM harus mendapat tempat strategis dalam pengembangan BKT. Warung kopi tradisional dapat berdampingan dengan kafe internasional, sementara jajanan pasar ditempatkan sejajar dengan restoran modern. Dengan demikian, UMKM bukan pelengkap, melainkan bagian utama ekosistem kuliner BKT.

“UMKM harus naik kelas. Di BKT, mereka bisa tampil dalam konsep modern yang menarik,” ujarnya.

Budi menilai bahwa proyek ini tidak harus membebani APBD sepenuhnya. Pemprov DKI dapat membuka peluang investasi swasta dengan skema kerja sama jangka panjang. Swasta dapat berperan dalam pembangunan fasilitas kuliner, infrastruktur wisata air, hingga penyediaan energi ramah lingkungan.

Pemerintah tetap memegang kendali regulasi dan tata kelola, sehingga keberadaan investor justru memperkuat kolaborasi kota.

Lebih jauh, Budi menilai bahwa pengembangan BKT akan menjadi legacy penting bagi gubernur Jakarta yang berani mengeksekusinya. BKT dapat menjadi ikon baru yang mencerminkan keberanian, visi jangka panjang, dan keberpihakan nyata kepada warga.

Dalam kesempatan terpisah, momentum penguatan posisi Jakarta sebagai kota global juga terlihat dari kehadiran Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai pembicara utama pada pembukaan Asia Berlin Summit 2025 di Jerman.

Pramono menegaskan visi besar untuk membawa Jakarta masuk ke jajaran 50 kota global terdepan pada 2030 melalui strategi transformasi berbasis kolaborasi global. Ia menekankan bahwa Jakarta tidak bisa berjalan sendiri dalam proses transformasi ini, dan memerlukan kerja sama erat dengan Berlin sebagai mitra strategis.

Budi menilai bahwa langkah diplomatik tersebut perlu disertai reformasi pembangunan di dalam negeri agar status kota global Jakarta tidak hanya menguntungkan elite ekonomi, tetapi juga benar-benar memberdayakan masyarakat luas.

“Pembangunan kota global harus berkeadilan, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga,” tegasnya.

Melalui Jaya Center Foundation (Yayasan Jakarta Menyala Center), Budi mengajak Pemprov DKI Jakarta membuka ruang dialog untuk membahas dan merealisasikan konsep pengembangan BKT secara komprehensif.

Menurutnya, BKT adalah aset publik yang tidak boleh dibiarkan tidur. Jika berhasil dikembangkan, kanal ini akan menjadi pusat kuliner modern, ruang publik produktif, jalur wisata air, dan ikon global baru bagi Jakarta.

“Jaya Center Foundation mengusulkan konsep ini bukan sekadar ide, tetapi bentuk kepedulian dan tanggung jawab sebagai warga Jakarta. BKT harus bermanfaat, punya nilai tambah, dan membanggakan warganya,” tutup Budi Mulyawan.