Jenazah Presenter TVRI Papua Barat Diautopsi, Keluarga Minta Publik Tunggu Hasil Forensik

JurnalPatroliNews | Manokwari -Proses autopsi terhadap jenazah presenter TVRI Papua Barat, Yanto Idorway, telah dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua Barat, Kamis (30/7). Pemeriksaan forensik tersebut menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian almarhum secara ilmiah.

Autopsi dimulai sekitar pukul 15.30 WIT dan berlangsung selama kurang lebih tiga hingga empat jam di bawah penanganan tim dokter forensik.

Kuasa hukum keluarga, Yan Christian Warinussy, mengatakan pihak keluarga mempercayakan sepenuhnya proses pemeriksaan kepada tim forensik dan penyidik. Ia juga meminta masyarakat tidak berspekulasi sebelum hasil resmi diumumkan.

“Informasi dari tim dokter forensik, autopsi berlangsung sekitar tiga hingga empat jam. Nantinya hasil autopsi pasti akan disampaikan,” ujar Yan.

Menurutnya, selain pemeriksaan autopsi, tim medis juga mengambil sejumlah sampel jaringan tubuh yang akan menjalani analisis laboratorium lebih lanjut.

Karena pemeriksaan tersebut memerlukan proses ilmiah yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat, Yan mengimbau masyarakat bersabar menunggu hasil resmi dari tim forensik.

“Selain dilakukan autopsi, nanti juga ada sampel jaringan yang diambil untuk diperiksa lebih lanjut. Pemeriksaan itu membutuhkan waktu lebih lama,” katanya.

Keluarga Ikut Mengawasi Proses Autopsi

Untuk menjamin transparansi proses pemeriksaan, sejumlah anggota keluarga korban diizinkan berada di lingkungan ruang autopsi.

Yan menjelaskan salah seorang anggota keluarga yang berprofesi sebagai dokter turut menyaksikan jalannya proses autopsi sehingga diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi keluarga maupun masyarakat.

Di luar ruang autopsi, ratusan warga tampak memadati halaman RS Bhayangkara Polda Papua Barat sebagai bentuk solidaritas dan dukungan moral kepada keluarga almarhum.

Polisi: Kondisi Jenazah Pengaruhi Durasi Autopsi

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Papua Barat, Kombes Pol dr. Iskandar, menjelaskan proses autopsi berlangsung cukup lama karena jenazah telah berada dalam kondisi meninggal selama lebih dari tujuh hari.

Autopsi dipimpin oleh dokter forensik dari Jayapura, dr. Jimmy V. J. Sembay, dengan melibatkan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi jenazah.

Selain pemeriksaan fisik, tim juga mengambil sejumlah sampel jaringan yang akan dikirim ke laboratorium forensik untuk dianalisis lebih lanjut.

Menurut Iskandar, pemeriksaan laboratorium belum dapat dilakukan di Papua Barat karena keterbatasan fasilitas, sehingga sampel harus dikirim ke laboratorium forensik di Jayapura atau Makassar.

“Nantinya ada sampel jaringan yang diambil dan diperiksa di laboratorium forensik. Pemeriksaan itu tidak bisa selesai dalam sehari karena kami belum memiliki fasilitas tersebut. Sampel harus dikirim ke Jayapura atau Makassar. Karena itu, kami meminta semua pihak bersabar, sebab hasil pemeriksaan ini bersifat ilmiah dan profesional,” jelas Iskandar.

Hasil Forensik Jadi Dasar Penyelidikan

Hingga Kamis malam sekitar pukul 19.00 WIT, masyarakat masih terus berdatangan ke RS Bhayangkara Polda Papua Barat untuk mengikuti perkembangan proses autopsi sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga korban.

Pihak kepolisian menegaskan hasil autopsi beserta analisis laboratorium forensik akan menjadi salah satu dasar penting dalam proses penyelidikan. Oleh karena itu, aparat meminta seluruh pihak menunggu hasil resmi dan tidak menyimpulkan penyebab kematian sebelum seluruh rangkaian pemeriksaan selesai.

Komentar