JurnalPatroliNews – Jakarta – Di balik deru mesin kereta api yang membelah kawasan Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, sebuah harapan baru baru saja bersemi. Pak Cono (nama samaran), seorang pria yang telah tiga dekade mengais rezeki di ibu kota, kini berani bermimpi memiliki hunian layak setelah dikunjungi langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Hidup dalam keterbatasan ekstrem, Pak Cono dan istrinya bertahan di sebuah tenda sederhana tepat di sisi rel. Demi kelima anaknya, ia rela menyisihkan Rp 500 ribu per bulan untuk menyewa satu kamar kontrakan agar anak-anaknya bisa tidur dengan aman, meski ia sendiri harus berteman dengan bocornya atap tenda saat hujan angin menerjang.
“Kalau ngontrak buat semua tidak ketutup biayanya. Jadi minimal anak saya di kontrakan, saya dan istri di sini (tenda samping rel),” tutur Pak Cono dengan suara lirih, Kamis (26/3).
Momen Spontanitas Sang Presiden Suasana haru menyelimuti permukiman padat tersebut saat Presiden Prabowo hadir secara mendadak.
Tanpa protokoler ketat, Prabowo bahkan berjalan di atas rel kereta api dan menyapa anak-anak setempat. Momen ini membuat warga seperti Wawan dan Fani tak kuasa membendung air mata.
“Siapa sih orang pertama di Indonesia (Presiden), ya kan? Mau nginjak di rel gitu loh. Baru kali ini ada yang datang ke sini,” ungkap Wawan penuh haru.
Dalam dialog singkat di sela-sela kunjungan, Presiden Prabowo secara langsung menawarkan solusi permanen bagi warga bantaran rel.
“Kata Pak Prabowo, ‘Mau nggak dibikinin rumah susun?’ Saya bilang, mau Pak! Karena saya memang tidak punya tempat tinggal,” kenang Pak Cono.
Tekad Pemerintah Sediakan Hunian Layak Melalui unggahan di akun Instagram resminya @prabowo, Presiden menegaskan komitmennya untuk segera mengeksekusi pembangunan hunian bagi masyarakat di kawasan tersebut.
“Sudah menjadi tekad saya untuk menyediakan hunian layak untuk masyarakat Indonesia,” tulis Presiden.
Bagi warga Senen, kehadiran Prabowo bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan simbol bahwa suara kaum terpinggirkan kini mulai didengar. Kini, mereka hanya menanti satu hal: realisasi janji pembangunan rumah susun yang akan mengubah hidup mereka dari tenda di pinggir rel menuju hunian yang lebih manusiawi.













