Eskalasi Teluk: Riyadh Jadi Sasaran Serangan Udara, Dua Warga Saudi Dilaporkan Tewas

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Pertahanan Arab Saudi akhirnya buka suara terkait meningkatnya intensitas serangan udara yang menyasar wilayah kedaulatannya. Dalam pernyataan resmi terbaru, pemerintah kerajaan mengakui telah berhasil mencegat sebanyak 723 drone dan rudal yang diluncurkan oleh Iran dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Serangan masif tersebut dilaporkan menyasar ibu kota Riyadh dan beberapa kawasan strategis lainnya. Meski sistem pertahanan udara Saudi bekerja ekstra keras, insiden ini tetap memakan korban jiwa dengan laporan dua orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka.

“Saya sedang berjalan bersama anak saya ketika tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Semua orang menengadah ke langit, mencoba memahami apa yang terjadi.

Ini bukan sesuatu yang Anda harapkan terjadi di Riyadh,” ungkap seorang warga Yordania yang menetap di Riyadh kepada AFP.

Infrastruktur Sipil Jadi Sasaran Utama Komentar Pemerintah Saudi ini muncul bersamaan dengan rilis laporan dari Pusat Stimson mengenai dinamika perang di Timur Tengah.

Laporan tersebut mematahkan klaim Iran yang menyebut pangkalan militer Amerika Serikat (AS) sebagai target utama. Sebaliknya, data menunjukkan bahwa serangan Teheran justru lebih banyak menyasar infrastruktur sipil.

Fasilitas vital energi seperti kilang minyak Ras Tanura, fasilitas Aramco, hingga ladang minyak Shaybah menjadi target utama dalam rentetan serangan ini. Hal ini memicu kekhawatiran global akan stabilitas pasokan energi dunia dari kawasan Teluk.

Data Konflik GCC Berdasarkan data yang dihimpun sejak 28 Februari 2026—hari pertama eskalasi militer AS-Israel terhadap Iran—negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) berada dalam posisi terjepit.

Tercatat sebanyak 4.391 serangan atau sekitar 83% serangan dari Teheran diarahkan ke negara-negara tetangga di Teluk. Sementara itu, serangan yang berasal dari pihak Israel ke wilayah GCC tercatat hanya sebesar 17%.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa konflik yang semula melibatkan kekuatan besar kini telah meluas dan mengancam keamanan nasional negara-negara di jazirah Arab secara langsung.