Menlu Sugiono Ungkap Rencana Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis, Bahas ToT Alutsista

JurnalPatroliNews – Jakarta – Agenda diplomasi internasional Presiden Prabowo Subianto kembali berlanjut. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, mengonfirmasi bahwa Presiden dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis dalam waktu dekat, tepatnya pada akhir bulan April, usai perayaan Iduladha.

Kunjungan ini merupakan penjadwalan ulang dari rencana semula yang sedianya dilaksanakan pada 6 April lalu, namun tertunda karena penyesuaian agenda kedua negara.

“Rencananya dicari waktu akhir bulan ini, mungkin ya sekitar setelah Iduladha. Saya kira akhir bulan ini rencananya,” ujar Menlu Sugiono saat ditemui di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Kamis (23/4).

Fokus Utama: Alutsista dan Transfer Teknologi

Menlu Sugiono menjelaskan bahwa salah satu poin krusial dalam lawatan tersebut adalah pembahasan terkait sektor pertahanan. Mengingat Indonesia telah melakukan pengadaan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis dari Prancis, Presiden Prabowo ingin memastikan proses tersebut berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas domestik.

“Kita procure banyak alutsista dari sana. Tentu saja ada proses yang harus kita lakukan dalam rangka mem-follow up itu, contohnya transfer of technology (ToT), kemudian training dan education dari personel-personel kita,” jelas Sugiono.

Langkah ini sejalan dengan ambisi pemerintah untuk tidak sekadar menjadi pembeli, tetapi juga mampu menyerap teknologi militer mutakhir guna kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

Perluasan Kerja Sama Ekonomi dan Investasi

Selain isu pertahanan, lawatan ke Paris tersebut juga membawa misi ekonomi yang luas. Presiden Prabowo dijadwalkan membawa proposal kerja sama yang lebih intensif di bidang perdagangan dan investasi guna mempererat hubungan bilateral kedua negara.

“Banyak hal yang saya kira bisa dijadikan poin untuk dibicarakan, termasuk proposal kerja sama yang lebih intensif di bidang perdagangan dan investasi,” tandas Menlu.

Kunjungan ini dipandang strategis bagi Indonesia, mengingat Prancis merupakan salah satu mitra ekonomi utama di Eropa. Pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Emmanuel Macron diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan-kesepakatan konkret yang menguntungkan posisi Indonesia di pasar global.