Ngeri! Awan Panas Guguran Merapi Meluncur 1.700 Meter, Status Masih Siaga

JurnalPatroliNews | Sleman — Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Sabtu (5/9/2026) siang. Gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah itu tercatat beberapa kali mengalami erupsi, termasuk dua kejadian yang dinilai signifikan.

Dari pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas erupsi terjadi sejak Sabtu pagi hingga siang dan disertai guguran lava dari kubah puncak.

Material guguran tersebut kemudian memicu luncuran awan panas guguran ke arah lereng Merapi. Sejumlah batuan juga terlihat meluncur dari kawasan kubah lava.

Berdasarkan data pemantauan, aktivitas erupsi memiliki amplitudo antara 2 hingga 26 milimeter dengan durasi 48,68 hingga 117,22 detik.

Awan Panas Meluncur ke Arah Kali Putih

Salah satu yang menjadi perhatian adalah luncuran awan panas guguran yang mencapai jarak maksimum sekitar 1.700 meter.

Arah luncuran berada di sektor barat daya, menuju hulu Kali Putih atau Kali Sat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa material vulkanik dari kubah puncak masih berpotensi bergerak mengikuti alur sungai yang berhulu di Merapi.

Karena itu, kawasan yang menjadi jalur luncuran material tetap menjadi zona yang harus dihindari masyarakat.

Aktivitas Berulang Sejak Pagi

Pemantauan BPPTKG menunjukkan aktivitas Merapi tidak hanya terjadi dalam satu kejadian.

Beberapa erupsi kecil turut tercatat di antara aktivitas yang lebih signifikan. Guguran lava dari kubah puncak menjadi bagian dari dinamika erupsi efusif yang masih berlangsung.

Meski aktivitas sempat meningkat, intensitas erupsi secara perlahan disebut mulai mengalami penurunan.

Namun, penurunan intensitas tersebut belum berarti ancaman telah berakhir.

Suplai Magma Masih Berlangsung

BPPTKG masih mencatat adanya suplai magma ke tubuh Gunung Merapi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat potensi terjadinya awan panas guguran tetap terbuka.

Material yang menumpuk di sekitar kubah puncak sewaktu-waktu dapat mengalami guguran dan menghasilkan awan panas yang meluncur ke daerah berpotensi bahaya.

Karena itu, masyarakat di sekitar Merapi diminta tidak menjadikan penurunan sementara aktivitas sebagai alasan untuk mengabaikan batas keselamatan.

Belum Ada Laporan Hujan Abu ke Permukiman

Hingga Sabtu siang, belum terdapat laporan mengenai hujan abu vulkanik yang berdampak ke permukiman warga di lereng Merapi.

Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat di luar kawasan rawan masih dapat berlangsung dengan mengikuti ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan.

Meski demikian, perkembangan aktivitas vulkanik tetap harus dipantau karena kondisi Gunung Merapi dapat berubah sewaktu-waktu.

Merapi Masih Level III atau Siaga

Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.

Status tersebut menandakan aktivitas vulkanik masih memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama terhadap ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

Laporan pemantauan terbaru yang terindeks juga menunjukkan BPPTKG mempertahankan status Merapi pada Level III/Siaga dan masih mencatat adanya suplai magma yang berpotensi memicu awan panas guguran.

Radius Bahaya Harus Dipatuhi

BPPTKG mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di daerah yang masuk kawasan potensi bahaya.

Masyarakat juga diminta menjaga jarak aman hingga tujuh kilometer dari puncak Gunung Merapi sesuai rekomendasi bahaya yang berlaku pada sektor-sektor tertentu.

Larangan tersebut terutama penting bagi warga, wisatawan maupun aktivitas lain yang berada di sekitar jalur sungai yang berhulu di Merapi.

Jangan Terpancing Informasi yang Belum Terverifikasi

Di tengah meningkatnya aktivitas Merapi, masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial.

Informasi mengenai erupsi, arah luncuran material maupun perubahan status gunung api sebaiknya merujuk kepada sumber resmi BPPTKG dan instansi kebencanaan terkait.

Kewaspadaan menjadi semakin penting karena informasi yang tidak akurat dapat menimbulkan kepanikan sekaligus mendorong masyarakat memasuki kawasan yang seharusnya dihindari.

Merapi Belum Benar-Benar Tenang

Rangkaian aktivitas pada Sabtu (5/9/2026) memperlihatkan Gunung Merapi masih berada dalam fase erupsi yang perlu diawasi.

Meski intensitas aktivitas disebut mulai menurun, suplai magma yang masih berlangsung membuat potensi guguran lava dan awan panas belum hilang.

Untuk saat ini, pesan BPPTKG tetap jelas: masyarakat harus mematuhi batas kawasan bahaya, meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi.

Gunung Merapi belum benar-benar tenang. Aktivitas dapat kembali berubah, sementara awan panas guguran tetap menjadi salah satu ancaman utama yang harus diantisipasi warga di sekitar lerengnya.

Komentar