Pengeroyokan Brutal di Bali Tewaskan 1 Orang, 13 Terduga Pelaku Diamankan

JurnalPatroliNews | Bali — Kasus pengeroyokan terhadap pekerja proyek di kawasan Sawangan, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Bali, memasuki babak baru. Polisi mengamankan 13 orang laki-laki yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan empat korban lainnya mengalami luka-luka.

Belasan orang tersebut diamankan setelah jajaran kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan serangkaian penyelidikan di sekitar lokasi.

Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Gede Adi Saputra Jaya mengatakan pemeriksaan terhadap ke-13 orang tersebut masih berlangsung untuk mendalami peran masing-masing dalam peristiwa pengeroyokan.

“Telah diamankan 13 orang laki-laki yang diduga merupakan orang yang melakukan pengeroyokan terhadap korban tersebut. Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan intensif,” kata Adi saat dikonfirmasi, Sabtu (12/9/2026).

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (6/9/2026) di bedeng pekerja proyek. Namun, laporan resmi baru diterima SPKT Polsek Kuta Selatan pada Kamis (10/9/2026).

Satu Pekerja Meninggal

Aksi pengeroyokan tersebut menimbulkan korban jiwa. Seorang laki-laki berinisial AW (24) meninggal dunia setelah sebelumnya sempat mendapatkan perawatan medis di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.

AW dilaporkan mengalami sejumlah luka, antara lain pada bagian bibir, mata, pipi, tangan kanan dan kaki kiri.

Setelah menjalani perawatan, kondisi korban kemudian memburuk hingga akhirnya meninggal dunia. Jenazah AW selanjutnya disemayamkan di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.

Empat korban lainnya juga mengalami luka-luka dan harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit yang sama.

Polisi kini masih mendalami rangkaian kekerasan yang terjadi, termasuk bagaimana awal perselisihan hingga berujung pada pengeroyokan yang menewaskan satu orang tersebut.

Polisi Amankan Sejumlah Barang Bukti

Dari hasil penyelidikan, polisi turut mengamankan sejumlah barang yang diduga digunakan dalam aksi pengeroyokan.

Barang bukti yang diamankan terdiri atas satu pisau, dua potongan besi, satu batako, satu ember, dan satu kayu.

Seluruh barang bukti bersama 13 orang yang diamankan telah dibawa ke Polresta Denpasar untuk pemeriksaan serta proses hukum lebih lanjut.

Menurut Adi, aksi tersebut tidak dilakukan hanya dengan tangan kosong.

“Modusnya adalah para pelaku menyerang korban secara beramai-ramai dan tidak hanya menggunakan tangan kosong atau menendang, tetapi juga menggunakan alat dan benda berbahaya,” ungkapnya.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa polisi menduga pengeroyokan dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan sejumlah benda yang berpotensi menyebabkan luka serius.

Laporan Masuk Empat Hari Setelah Kejadian

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam perkara ini adalah waktu pelaporan.

Pengeroyokan disebut terjadi pada 6 September, sedangkan laporan resmi baru masuk pada 10 September. Setelah menerima laporan, polisi melakukan pemeriksaan lokasi, mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitar, dan menelusuri pihak-pihak yang diduga terlibat.

Dari rangkaian penyelidikan tersebut, aparat kemudian berhasil mengamankan 13 orang.

Meski demikian, status mereka saat ini masih sebagai orang yang diduga terlibat dan pemeriksaan masih diperlukan untuk menentukan peran serta pertanggungjawaban hukum masing-masing.

Polisi juga masih mendalami apakah terdapat pihak lain yang terlibat dalam aksi tersebut.

Polisi Dalami Motif Pengeroyokan

Kasus pengeroyokan maut di Benoa tersebut kini menjadi perhatian karena melibatkan banyak orang dan menyebabkan satu korban meninggal dunia.

Selain memastikan identitas serta peran masing-masing orang yang diamankan, penyidik perlu mengungkap motif utama pengeroyokan dan rangkaian kejadian yang mendahuluinya.

Langkah tersebut penting untuk menentukan konstruksi perkara dan pasal yang tepat berdasarkan hasil penyidikan serta alat bukti yang diperoleh.

Polisi masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap 13 orang yang diamankan, sekaligus mencocokkan keterangan para pihak dengan barang bukti dan fakta di lokasi kejadian.

Kamtibmas di Kawasan Proyek Jadi Perhatian

Kasus tersebut juga menjadi pengingat bahwa kawasan pekerja proyek membutuhkan lingkungan yang aman. Perselisihan yang berkembang menjadi kekerasan secara berkelompok dapat berujung pada konsekuensi serius, termasuk jatuhnya korban jiwa.

Karena itu, penyelesaian konflik melalui jalur hukum menjadi penting agar persoalan tidak berkembang menjadi aksi kekerasan.

Saat ini, kepolisian masih bekerja untuk mengungkap seluruh rangkaian kejadian. Ke-13 orang yang telah diamankan menjalani pemeriksaan guna mengetahui siapa yang terlibat, bagaimana perannya, dan apakah masih ada pihak lain yang harus dimintai pertanggungjawaban.

Kasus pengeroyokan pekerja proyek di Benoa tersebut selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil penyidikan dan alat bukti yang sah.

Komentar