Purna Pekerja Migran Dibekali Keterampilan Organisasi dan Pupuk Organik, Siap Tingkatkan Ekonomi Keluarga

JurnalPatroliNews | Cilacap – Koordinasi Purna Pekerja Migran Indonesia (KOPPMI) terus memperkuat pemberdayaan perempuan purna pekerja migran melalui peningkatan kapasitas organisasi dan keterampilan di bidang pertanian.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan capacity building yang dipadukan dengan praktik pembuatan pupuk organik cair bagi anggota KOPPMI di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Kegiatan bertema “Persoalan-Persoalan Manajemen pada Komunitas Perempuan Purna Pekerja Migran Petani” itu diselenggarakan di kediaman salah satu anggota KOPPMI, Mus, di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Selasa (21/7/2026).

Pelatihan diikuti perempuan purna pekerja migran yang kini beralih profesi sebagai petani. Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas organisasi komunitas sekaligus memperkuat kemampuan anggota dalam mengembangkan sistem pertanian yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, KOPPMI menghadirkan tiga narasumber dari STIE Muhammadiyah Cilacap, yakni Tri Nurindahyanti, S.E., Rustina Dewi, S.E., M.M., dan Wignyo, S.Kom., S.E..

Mereka memberikan materi mengenai pengelolaan organisasi komunitas serta pelatihan teknis pembuatan pupuk organik cair yang dapat diterapkan secara langsung oleh peserta.

Pada sesi penguatan kapasitas organisasi, peserta memperoleh pembekalan mengenai manajemen kelembagaan, kepemimpinan komunitas, pembagian tugas, hingga strategi memperkuat solidaritas antaranggota agar organisasi mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pelatihan praktik membuat pupuk organik cair sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang dinilai semakin mahal dan kerap mengalami kelangkaan di pasaran.

Menurut KOPPMI, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berpotensi menurunkan kesuburan tanah dan berdampak terhadap kesehatan lingkungan.

Melalui pelatihan tersebut, peserta diajarkan mengolah berbagai limbah organik yang tersedia di sekitar lingkungan, seperti kotoran ternak, dedaunan, dan sisa hasil pertanian, menjadi pupuk organik cair yang lebih ekonomis, ramah lingkungan, dan memiliki nilai manfaat bagi produktivitas lahan.

KOPPMI berharap keterampilan tersebut dapat diterapkan secara mandiri oleh para purna pekerja migran sehingga mampu menekan biaya produksi pertanian, meningkatkan hasil panen, serta memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga menjadi wadah konsolidasi bagi para anggota untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring, serta memperkuat kemandirian ekonomi perempuan purna pekerja migran melalui pengembangan sektor pertanian berkelanjutan.

KOPPMI meyakini bahwa penguatan kapasitas organisasi yang diiringi peningkatan keterampilan praktis akan menjadi fondasi penting bagi pemberdayaan perempuan purna pekerja migran agar mampu menciptakan usaha produktif yang berdaya saing sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di tingkat desa.

Komentar