JurnalPatroliNews – Jakarta – Suhu geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Militer Iran melalui Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
Teheran menegaskan kesiapannya untuk melakukan serangan balasan yang tidak hanya menyasar objek militer, tetapi juga aset ekonomi dan infrastruktur strategis.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa ancaman ini merupakan respons langsung atas pernyataan Donald Trump yang mengindikasikan penargetan infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan, pembangkit listrik, dan fasilitas energi.
“Iran siap melakukan tindakan balasan terhadap aset milik AS dan Israel. Kami memperingatkan bahwa negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS berpotensi ikut terdampak jika konflik ini terus meluas,” tegas Zolfaghari dalam pernyataan resminya, Sabtu (4/4).
Zolfaghari menambahkan bahwa skala serangan Iran kali ini diprediksi akan jauh lebih parah dan menghancurkan dibandingkan konfrontasi sebelumnya.
Teheran juga mengeluarkan ultimatum kepada negara-negara di kawasan agar segera mendorong penarikan pasukan AS guna menghindari keterlibatan langsung dalam pusaran konflik.
Pihak militer Iran menegaskan bahwa kegagalan negara tetangga dalam mengambil langkah diplomasi untuk mengusir pasukan asing dapat menjadikan wilayah mereka sebagai target potensial dalam eskalasi berikutnya.
Menurut Teheran, keberadaan pasukan asing di kawasan adalah akar masalah yang memicu ketidakstabilan.
Konflik ini sendiri pecah sejak 28 Februari 2026, yang oleh media pemerintah Iran disebut sebagai serangan sepihak tanpa provokasi dari koalisi AS dan Israel.
Sejak saat itu, baku tembak dan serangan udara terus meningkat, memicu kekhawatiran global akan pecahnya perang terbuka yang lebih besar di kawasan Timur Tengah. Bagi Iran, penarikan total pasukan asing adalah satu-satunya jalan keluar untuk meredakan situasi.














