Robo-Robo Jadi Ikon Kalbar, Tradisi Keraton Mempawah yang Menyatukan Dayak, Melayu dan Bugis

JurnalPatroliNews | Mempawah – Tradisi Robo-Robo terus menjadi salah satu ikon budaya Kalimantan Barat yang lekat dengan sejarah Kabupaten Mempawah. Setiap pelaksanaannya, tradisi yang berpusat di kawasan Keraton Amantubillah Mempawah tersebut tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sejarah, religi, persaudaraan, hingga potensi pengembangan pariwisata daerah.

Tradisi Robo-Robo berkaitan erat dengan perjalanan sejarah Kerajaan Mempawah dan kedatangan Ratu Kusumba bersama Pangeran Mas Surya Negara atau Opu Daeng Manambon ke Mempawah.

Menurut keterangan Raja Muda Wira Buana Muhammad Hifidz Adinugraha, PYM Raja XIV Keraton Amantubillah Mempawah, istilah Robo-Robo dalam bahasa Melayu Mempawah memiliki makna yang berkaitan dengan berlayar atau berpindah tempat.

Pelaksanaan Robo-Robo secara tradisi dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Tradisi Keraton Amantubillah Mempawah tersebut kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 28 Oktober 2016.

Festival Robo-Robo Kabupaten Mempawah 2026 dijadwalkan berlangsung di Muare Kuala Mempawah pada September 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Mempawah dr. Hj. Herlina, S.H., M.H., Wakil Bupati Burdadi, S.H., M.Si., serta Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan.

Sejumlah tokoh dan tamu kehormatan juga dijadwalkan hadir, termasuk perwakilan DPR RI, Wakil Bupati Sanggau, Majelis Raja-Raja Nusantara, serta tamu dari negara tetangga seperti Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Rangkaian penyambutan turut menampilkan kesenian tradisional, di antaranya tarian daerah Selodang Mayang dan Patih Gumantar.

Napak Tilas Sejarah Kerajaan Mempawah

Robo-Robo tidak dapat dipisahkan dari kisah perjalanan Ratu Kusumba dan Pangeran Mas Surya Negara atau Opu Daeng Manambon dari Matan, Ketapang menuju Mempawah.

Dalam catatan sejarah lokal yang menjadi sumber tradisi tersebut, kedatangan keduanya menjadi bagian penting dari perjalanan terbentuknya Kerajaan Mempawah.

Ratu Kusumba dikenal dengan gelar Ratu Sinuhun. Ia disebut sebagai pewaris tahta Putri Cermin dari garis keturunan Panglima Sengaok. Sementara Pangeran Mas Surya Negara atau Opu Daeng Manambon merupakan bangsawan Bugis dari Sulawesi Selatan yang kemudian menjadi pasangan Ratu Kusumba.

Ratu Kusumba disebut sebagai putri Kerajaan Matan Tanjungpura Ketapang, dari Sultan Muhammad Zainudin dan Utin Indrawati. Dalam tradisi sejarah Mempawah, keduanya memiliki posisi penting dalam perjalanan pemerintahan kerajaan.

Kerajaan Mempawah sendiri dalam catatan lokal memiliki perjalanan sejarah panjang yang dikaitkan dengan masa Patih Gumantar, kemudian Panglima Kodong dan Panglima Sengaok.

Kedatangan Ratu Kusumba dan Pangeran Mas Surya Negara ke Mempawah kemudian diperingati melalui tradisi Robo-Robo. Tradisi tersebut menjadi penanda perjalanan sejarah sekaligus pengingat terhadap terbentuknya pemerintahan Kerajaan Mempawah.

Keraton Amantubillah Mempawah juga dikenal dalam sejarah lokal sebagai kerajaan Islam yang berkembang di Mempawah pada periode 1740–1761.

Dalam sistem pemerintahan yang dikenang melalui tradisi tersebut, Ratu Kusumba disebut sebagai pemegang hak atas tahta, sementara Pangeran Mas Surya Negara menjalankan roda pemerintahan.

Karena itu, keberadaan kedua tokoh tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Keraton Amantubillah Mempawah hingga saat ini.

Dari Ritual hingga Perekat Persaudaraan

Robo-Robo memiliki rangkaian kegiatan yang sarat dengan nilai budaya dan keagamaan. Di antaranya makan seprahan bersama masyarakat, doa tolak bala, ritual buang-buang atau pelepasan puaka, kirab Keraton Amantubillah, serta ziarah ke makam Ratu Kusumba dan Pangeran Mas Surya Negara.

Makan seprahan menjadi salah satu bagian yang mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan. Masyarakat duduk dan makan bersama tanpa membedakan latar belakang maupun status sosial.

Sementara doa tolak bala menjadi bagian religius dari tradisi Robo-Robo. Kegiatan tersebut menjadi bentuk doa bersama untuk memohon keselamatan dan perlindungan.

Ritual buang-buang atau pelepasan puaka juga menjadi bagian dari rangkaian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Dari sisi sosial, Robo-Robo menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan. Tradisi tersebut tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Simbol Persatuan Dayak, Melayu dan Bugis

Lebih jauh, sejarah Mempawah juga memperlihatkan pertemuan berbagai unsur budaya. Hubungan sejarah antara masyarakat Dayak, Melayu dan Bugis menjadikan Mempawah sebagai salah satu wilayah yang memiliki karakter budaya beragam.

Kedatangan Opu Daeng Manambon yang berasal dari lingkungan bangsawan Bugis dan penyatuan sejarahnya dengan Ratu Kusumba dalam tradisi Kerajaan Mempawah menjadi salah satu simbol pertemuan budaya tersebut.

Dalam konteks kekinian, Robo-Robo tidak hanya dipandang sebagai tradisi keraton. Festival tersebut berkembang menjadi agenda budaya yang melibatkan masyarakat luas sekaligus menjadi sarana memperkenalkan sejarah Mempawah kepada generasi muda dan wisatawan.

Nilai ekonomi dan pariwisata juga menjadi bagian penting dari keberadaan Robo-Robo. Statusnya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia membuka peluang bagi Mempawah untuk memperkuat promosi wisata berbasis sejarah dan budaya.

Kehadiran tamu dari berbagai daerah, Majelis Raja-Raja Nusantara hingga negara tetangga juga menunjukkan bahwa Robo-Robo memiliki potensi untuk menjadi salah satu agenda budaya yang memperkuat posisi Mempawah dalam peta pariwisata Kalimantan Barat.

Bagi masyarakat Mempawah, Robo-Robo pada akhirnya bukan sekadar festival tahunan. Ia merupakan ruang untuk mengenang perjalanan sejarah, menjaga tradisi keagamaan, mempererat persaudaraan, serta merawat identitas budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Penulis: Gusti Fanani, S.IP
Sumber: Tutua Mempawah, buku lokal Mempawah, dan catatan sejarah Keraton Mempawah.

Komentar