JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang demonstrasi besar-besaran masih terus mengguncang Iran hingga Sabtu, 10 Januari 2026.
Situasi semakin memanas setelah eks putra mahkota Iran yang kini berada dalam pengasingan di Amerika Serikat, Reza Pahlavi, meminta para demonstran untuk tidak sekadar turun ke jalan, tetapi mulai merebut kendali atas pusat-pusat kota besar di negara tersebut.
Aksi protes ini telah pecah selama dua pekan terakhir yang dipicu oleh krisis ekonomi hebat serta lonjakan biaya hidup akibat merosotnya nilai mata uang rial.
Menanggapi situasi yang kian tidak terkendali, otoritas keamanan Iran mengambil langkah tegas dengan memutus akses internet dan jaringan telepon secara nasional guna meredam koordinasi massa.
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat pemantau hak asasi manusia melaporkan bahwa puluhan demonstran telah tewas dalam bentrokan selama dua pekan terakhir. Meski demikian, warga tetap memenuhi jalanan utama di ibu kota Teheran sejak Jumat kemarin dengan meneriakkan slogan-slogan perlawanan terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Selain di Teheran, titik panas demonstrasi juga dilaporkan terjadi di kota Mashhad dan Tabriz. Di kota Hamedan, massa mulai mengibarkan bendera Iran era Dinasti Pahlavi, sebuah simbol yang merujuk pada pemerintahan sebelum Revolusi Republik Islam tahun 1979.
Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir dari dinasti tersebut, memberikan semangat kepada para pengunjuk rasa untuk memperluas gerakan mereka sepanjang akhir pekan ini.
Ia menyatakan bahwa tujuan gerakan tersebut adalah persiapan untuk mengambil alih pusat kota sepenuhnya. Pahlavi juga menegaskan keyakinannya bahwa waktu bagi dirinya untuk kembali ke tanah air sudah sangat dekat.
Di sisi lain, Ayatollah Ali Khamenei menuding bahwa kerusuhan yang terjadi merupakan hasil campur tangan Amerika Serikat yang sengaja menunggangi keresahan ekonomi masyarakat.
Penangkapan massal dan tindakan keras dari aparat keamanan hingga saat ini belum mampu memadamkan api protes yang terus meluas ke berbagai penjuru wilayah Iran.














