Peristiwa tak biasa juga dialami rombongan saat tiba di teras pertama. Ketika doa pembuka dipanjatkan oleh Romo Yos, beberapa peserta merasakan percikan air yang mengenai tubuh mereka, meski hujan telah berhenti dan dedaunan di sekitar tampak kering. Kejadian tersebut berlangsung singkat dan disikapi dengan keheningan, sebagai bagian dari pengalaman batin yang sulit dijelaskan secara rasional.
Puncak kekhusyukan terjadi saat konsekrasi Ekaristi di Teras 5. Awan tebal yang sebelumnya menutup langit perlahan tersibak, membentuk celah cahaya besar. Langit malam tampak cerah, bintang-bintang bersinar terang, dan planet Venus terlihat jelas dan mencolok. Fenomena langit tersebut menambah kedalaman suasana doa yang tengah berlangsung.
Usai misa, Romo Yos Bintoro menyebut perayaan tersebut sebagai pengalaman iman yang sangat mendalam. Ia menilai doa yang dipanjatkan di Gunung Padang bukan hanya doa umat Katolik, tetapi doa lintas iman untuk Indonesia dan pertobatan manusia atas relasinya dengan alam.
Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana, mengungkapkan bahwa dua malam sebelumnya kawasan tersebut diguyur hujan lebat tanpa jeda. Namun pada malam Selasa Kliwon, kondisi berubah secara drastis. Ia menyebut Selasa Kliwon sebagai malam cahaya dalam perhitungan tradisi, selaras dengan makna Gunung Padang sebagai tempat terang.
Sementara itu, Brigjen TNI (Mar) F.J.H. Pardosi mengaku merasakan ketenangan batin yang kuat selama perayaan misa. Ia berharap doa yang dipanjatkan membawa berkah, keselamatan, serta kesadaran kolektif untuk menjaga alam dan keutuhan bangsa.
Usai perayaan berakhir dan rombongan menuruni kawasan situs, hujan kembali turun deras meski hanya berlangsung singkat. Gunung Padang pun kembali sunyi, seakan menyimpan doa, cahaya, dan pesan spiritual malam Selasa Kliwon dalam keheningan batu-batu purbanya—menjadi pengingat akan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.














