Solidaritas Ini Menembus Batas yang Tak Pernah Terbayangkan!

Mereka menyoroti lemahnya pengawasan dan maraknya konflik agraris antara masyarakat adat dan korporasi dalam upaya perolehan izin dari negara.

Sosok selanjutnya yang mendapat sorotan adalah Bahlil Lahadalia sebagai Menteri ESDM. Bahlil dianggap memegang peran kunci dalam skema eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam yang kerap mengorbankan kawasan resapan air, tanah gambut, dan jalur aliran sungai.

Setiap eksploitasi sumber daya energi, meliputi batu bara, panas bumi, maupun mineral, memiliki jejak ekologis yang tidak bisa dipandang remeh.

Dampak negatif yang ditimbulkan jika tidak disertai proses pemulihan yang sepadan, ketika pengawasan minim, ketika korporasi dibiarkan mendapat ruang terlalu luas, maka yang terjadi adalah alam kembali mengambil caranya sendiri.

Apa yang dapat dipahami di balik fenomena alam yang terjadi ini bukan sekadar fenomena iklim ekstrem atau hujan badai musiman.

Lebih dari itu, semua ini buah dari pembiaran sistematis terhadap deforestasi, fragmentasi hutan, serta ekspansi perdagangan sumber daya alam yang melibatkan jaringan korporasi dan kekuasaan politik.

Pada poin inilah, tanggung jawab elite bukan semata tentang apa yang mereka lakukan hari ini, tetapi apa yang mereka biarkan terjadi selama bertahun-tahun tanpa koreksi atau introspeksi.

Solidaritas vs Pencitraan

Ketika Masyarakat dengan cepat mengumpulkan lebih dari Rp10,3 miliar hanya dalam sehari melalui figur seperti Ferry Irwandi, ada pesan penting di balik momen ini yang tidak bisa dianggap sepele.