Setelah eksplosi sosial politik di tahun 1998 yang ditandai dengan lengsernya kediktatoran Soeharto, sebuah peledakan ke arah luar mengakibatkan terpencarnya kekuasaan tunggal jadi pecahan berbagai partikel.
Indonesia memasuki era reformasi 1994 sampai 2014. Tapi sejarah Indonesia terus bergerak memasuki era transformasi sejak 2014, dan sekarang ini sedang terjadi implosi sosial politik di pusat-pusat kekuasaan baru: rezim Kabinet Merah Putih, Partai Gerindra dan PSI.
Berbagai partikel politik bermetamorfosa dan mengonsolidasikan dirinya menjadi banyak kekuatan sosial politik. Untuk kemudian berimplosi, berdesakan ke arah dalam. Ke dalam untuk memperebutkan ruang kekuasaan yang ditinggalkan kekuatan dominan yang lama.
Saling sikut, tapi juga saling koalisi. ‘Co-opetition’ istilah di berbagai buku manajemen bisnis modern. Cooperation (kerjasama) sambil juga Competition (bersaing). Bersalaman sambil juga injak kakinya, kalau perlu.
Membaca kelakuan (political behavior) para pejabat (menteri, petinggi partai, gubernur, walikota, bupati, tokoh ormas, dan lainnya) yang saat ini sedang giat-giatnya memanfaatkan momentum. Momentum apa? Momentum pemilu 2029 yang tinggal sebentar lagi itu.
Dalam pembentukan tim kerja (termasuk susunan kabinet menteri ataupun pengurus parpol) semua sentra politik sedang aktif “talent scouting”. Parpol pun sibuk merekrut mereka yang punya kapasitas dan isi tas.
Dalam manajemen kelompok (group management) dalam menghadapi perubahan (change) dikenal tahapan yang disebut dengan tahapan forming (pembentukan), storming (konflik), norming (normalisasi kerja) dan performing (kinerja).
Dalam proses pembentukan tim dilakukan “talent-scouting”, mencari orang yang tepat, lalu tim mulai bekerja dan bibit konflik mulai muncul akibat perbedaan pandangan maupun perbedaan agenda pribadi. Ini sering terjadi, maka saling asah dan saling asuh, kalau perlu dilakukan pergantian pemain atau reshuffle (kocok ulang), sampai fase normalisasi kerja, badai mereda dan tim bisa mulai unjuk kinerja terbaiknya. Semangat persatuan terus digaungkan.
Dalam fase storming (saat konflik internal bermunculan) situasinya memang rawan perpecahan. Kepemimpinan (leadership) yang mampu mengayomi dan memberi pencerahan pada visi dan misi organisasi menjadi krusial dan imperatif.
Mewaspadai kaum oportunis yang muncul dengan segala pernyataannya tentang bakal terjadi chaos, harus terus menerus diingatkan. Tetap kritis namun dengan keyakinan bahwa Indonesia bakal terus melangkah ke era keemasannya.
Para politisi oportunis ini memang bukan kelas negarawan, mereka cuma politisi murahan, sekedar petugas partai. Tanpa wawasan kebangsaan, lantaran terus berkubang di kawasan kebangsatan.














