Implosi Politik yang Mengarah ke Pemilu 2029: Prabowo dan Gerindra Bersama Jokowi dan PSI

Dilanjutkan ke tahap ketiga (2035 – 2039), disni Indonesia memulai ekspansi global yang mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6,4 – 7,6 persen per tahun. Fokus utama transformasi sosial terletak pada penguatan daya saing sumber daya manusia (SDM) yang semakin produktif dan inovatif, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Akhirnya memasuki tahap keempat (2040 – 2045), Indonesia berhasil mencapai Indonesia Emas 2045 dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5,4 – 6,7 persen per tahun. Fokus transformasi sosial adalah menciptakan masyarakat sejahtera, adaptif, berakhlak mulia, berbudaya maju, serta memiliki daya saing.

Bahkan menurut kajian PricewaterhouseCoopers (PwC), Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada 2050. Lima tahun setelah Indonesia masuk dalam klasemen negara-negara maju dunia.

Diprediksi Indonesia akan menempati peringkat keempat ekonomi terbesar di dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) purchasing power parity (PPP) pada tahun 2050. Ini artinya melampaui negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Jerman dan Inggris.

Gibran pasca dipecat dari PDIP tidak berpartai, namun demikian ia tak terbendung untuk dicalonkan sebagai pendamping Prabowo dalam pemilu 2024 lalu. Itu sudah jadi fakta politik yang tak terbantahkan.

Kesuksesan karier politik Gibran tak terlepas dari faktor Jokowi sebagai latar belakangnya. Namun pada saat bersamaan Jokowi juga menjadi latar depan dari dinamika politik kontemporer Indonesia, apalagi jika kelak Jokowi secara formal menduduki posisi Ketua Dewan Pembina PSI.

Adalah kenyataan politik bahwa PSI bersama Jokowi dan Gerindra bersama Prabowo adalah dua kekuatan politik nyata saat ini. Golkar, Demokrat, PKB dan PAN dengan segala dinamika internal maupun eksternalnya akan ikut bersama Prabowo-Jokowi. PDIP akan masih terus meraung-raung dengan masa lalunya, dan Nasdem masih akan terus sibuk untuk menambal kapal bocornya. Dan PKS? Ya dimana PKS, ada yang tahu?

Dinamika kontemporer seperti ini membawa kita masuk dalam fenomena politik yang dikenal sebagai implosi politik. Peledakan ke dalam (implosi) sebagai lawan dari peledakan ke luar (eksplosi). Utamanya sedang terjadi di dua kekuatan politik riil saat ini, Gerindra dan PSI. Berbondong-bondong orang mengantri masuk, berdesakan dan berjejal-jejal.

Mengikuti jalan pemikiran Jean Budrillard dimana kekuatan implosi (implosion) sedang bekerja, yaitu dimana banyak kekuatan sosial politik sedang berdesakan masuk ke ruang kekuasaan. Lantaran ruang yang lama mengalami kebocoran atau dipersepsi sudah uzur dan loyo.

Bayangkan, suasana ramai-ramai, jejal menjejal (mungkin juga saling jegal menjegal), seperti penonton bola di pintu stadion yang sedang berebutan masuk. Mereka mau masuk ke ruang Gerindra dan ruang PSI. Terjadi implosi, ledakan ke dalam, utamanya di pintu gerbang PSI. Karena PSI dipersepsi partai yang punya masa depan.

Kekuatan lama semakn melemah, pasca masa kejayaan PDIP selama dua periode bersama Jokowi, yang kini Megawati dan rezimnya hanya aktif bernostalgia dengan romantika reformasi, padahal sejarah sedang sibuk ber-transformasi. Dimana kekuatan politik telah tumbuh silih berganti berbagai partai yang semua saling berdesakan demi memperebutkan kekuasaan.

Ramai, dan penuh gegap gempita. Istilah dari Yasraf Amir Piliang, “…bagaikan berjuta-juta serbuk besi yang mengerubuti sebuah magnet kekuasaan yang telah ditinggalkan sehingga semuanya saling berdesakan, saling berebut ruang kekuasaan — the great implosion of power.” (Chaosophy, dalam bukunya, “Hantu-hantu Politik dan Matinya Sosial”, 2003).