Inti Pesan dari Pidato Presiden Prabowo Subianto: Ekonomi Indonesia Harus Lebih Nasionalis, Tapi Bukan Chauvinistik!

Kita tahu bahwa ekonomi boleh terus bertumbuh tapi kalau disparitasnya (atau ketimpangan) terlalu lebar bisa menjadi sumber dari kecemburuan sosial. Dan kecemburuan sosial ini adalah bahan bakar utama untuk meledaknya amok-masa atau kerusuhan manakala provokator atau lawan politik yang disponsori kekuatan asing secara klandestin campur tangan demi kepentingan sempit mereka.

Presiden rupanya sudah mendeteksi gerakan-gerakan klandestin yang ingin Indonesia tetap “merasa bertumbuh” di kisaran 5 persen, tetap mengekspor bahan mentah, dan industrialisasi berspektrum pendek, hanya jadi pelengkap penderita dari rantai pasok produk global, tidak menjadi pemain inti. Keterlenaan didalam zona nyaman seperti inilah yang mesti dibangunkan dan dibongkar asumsi-asumsinya yang telah membius bangsa ini.

Maka ditekankan dalam pidatonya soal hilirisasi dan strategi industrialisasi ke depan. Sebagai keberlanjutan dari Jokowinomics, dikatakan lagi oleh Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia tidak boleh terus menerus bergantung pada kebiasaan mengekspor bahan mentah. Strategi hilirisasi sumber daya alam (SDA), misalnya tambang nikel yang kemudian juga dibangun pabrik baterai dan industri kendaraan listriknya sekaligus. Hasil akhirnya boleh dijual domestik maupun ekspor.

Begitupun dengan perkebunan kelapa sawit yang mesti diikuti dengan industrialisasi pengolahan pasca panen, kemudian pengembangan produk-produk derivatifnya yang jumlahnya banyak sekali dan bernilai tambah tinggi. In mesti dirancang dan dikerjakan. Belum lagi kita bicara perkebunan tebu, lalu jagung dan kedelai yang sampai sekarang masih impor. Sambung lagi soal kebutuhan mengimpor minyak (BBM), hal ini tak perlu lagi diulangi lagi disini. Dari kegiatan importasi komoditas yang disebutkan diatas devisa kita sudah terkuras banyak sekali.

Strategi industrialisasi ke depan haruslah ditekan pada pembangunan sektor produktif serta dapat menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. Targetnya tentu untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor, dimana itu semua mampu meningkatkan “competitive advantage” diatas “comparative advantage” yang sebelumnya jadi andalan.