Pertamina Dikorupsi Rp 285 Triliun, Padahal Bisa Bikin Kereta Cepat Whoosh Sampai Surabaya!

Lalu dihitung proyeksinya, kebutuhan BBM sekarang, dan kebutuhan satu sampai dua dekade kedepan, kemampuan lifting minyak mentah, dan berbagai faktor lain (eksternal maupun internal) yang berkaitan dengan aspek PESTEL (Politics, Economy, Social, Technology, Environment and Legal), lalu Analisa SWOT. Akhirnya “policy cascading”, semua dihitung dan direncanakan dengan cermat.

Lalu ujungnnya keluarlah estimasi, Indonesia perlu 7 (atau lebih) kilang baru dengan kapasitas sekian juta barrel per hari. Dengan demikian kita bisa memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri serta mendapat devisa ekspor sekian miliar dollar dengan mengekspor sekian juta barrel.

Semua diperhitungkan dalam “plot” waktu yang masuk akal, dalam sekian tahun kilang mulai beroperasi, lalu tahun pertama produksinya berapa, tahun kedua berapa, sampai ke tahun produksi optimal. Itu dari sisi produksi. Kemudian dari sisi finansial juga dihitung cermat faktor investasi (pengembalian modal) sampai ke titik BEP (Break Even Point) dan potensi tambahan keuntungan dari aktivitas ekspor, dan lain-lain.

Kita tahu bahwa sebuah kilang minyak mampu memproduksi minyak bensin (gasoline). Minyak bensin merupakan produk terpenting dan terbesar dari kilang minyak. Lalu minyak tanah (kerosene), LPG (Liquified Petroleum Gas), Minyak distilat (distillate fuel), Minyak residu (residual fuel), Kokas (coke) dan aspal, Bahan-bahan kimia pelarut (solvent), Bahan baku petrokimia serta Minyak pelumas. Mungkin masih ada lainnya.

Pokoknya semua potensi Revenue (pemasukan) dan semua aspek Capex (Capital Expenditure) dan Opex (Operational Expenditure) dalam bentuk proyeksi dihitung terinci dan masuk akal. Segala bentuk mark-up atau “rencana korupsi” di-eliminasi sejak tahap perencanaan. Jangan ulangi kasus korupsi e-KTP dan BTS yang memang dikorupsi sejak tahap planning (perencanaan).

Karena itu keterbukaan publik menjadi imperatif bagi Pertamina. Go Public atau melakukan IPO (Initial Public Offering) alias melantai di bursa saham menjadi salah satu milestone penting. Pak Simon Aloysius Mantiri dan timnya harus bekerja keras dan cepat, secepat kereta Whoosh… whoosh… whoosh…

Jakarta, Minggu 19 Oktober 2025
Andre Vincent Wenas, MM,MBA., Pemerhati Ekonomi dan Politik, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta