JurnalPatroliNews – Jakarta – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal istilah “Serakahnomic” yang ia sampaikan usai menghadiri Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI), memunculkan tafsir politik yang cukup tajam.
Sejumlah pengamat menilai, ucapan tersebut bukan sekadar sindiran biasa, melainkan sebuah peringatan serius terutama ditujukan kepada PSI dan mantan Presiden Joko Widodo.
Direktur Eksekutif Survei dan Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara, memandang bahwa Presiden Prabowo tengah mengirimkan sinyal peringatan kepada PSI, partai yang banyak mengisi posisi strategis di pemerintahan, meski tak lolos ke Senayan pada Pemilu 2024.
“Fakta bahwa kader PSI bisa duduk di kursi penting itu tak lepas dari peran kuat Presiden sebelumnya, Jokowi,” ujar Igor pada Sabtu, 26 Juli 2025.
Menurut Igor, penggunaan istilah “Serakahnomic” dalam pidato Prabowo menyimpan makna politis yang cukup dalam. Selain menyasar elite partai yang rakus jabatan, istilah itu juga dapat dibaca sebagai kritik tak langsung terhadap Presiden ke-7, Joko Widodo, yang memiliki kedekatan politik dan personal dengan PSI.
“Istilah itu bisa berlaku umum untuk semua partai koalisi pendukung Prabowo yang kini lolos ke DPR. Tapi secara spesifik, kritiknya terasa mengarah ke PSI—yang dipimpin Kaesang, putra bungsu Jokowi,” jelas Igor.
Ia juga menyoroti dinamika internal pemerintahan, di mana PSI justru memperoleh jatah kekuasaan meskipun tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap kemenangan Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024.
“PSI tidak punya pengaruh besar dalam pemenangan Prabowo, bahkan beberapa kadernya di masa lalu dikenal sangat keras mengkritik Prabowo pada Pilpres 2014 dan 2019,” ujar Igor.
Ia menyebut bahwa keberadaan kader PSI di kabinet maupun di jabatan strategis BUMN bukan semata hasil kerja politik partai itu sendiri, melainkan karena intervensi Jokowi—khususnya setelah Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Jokowi, dipilih menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo.
“Tanpa faktor Jokowi dan pencalonan Gibran, posisi PSI di pemerintahan mungkin tidak akan sekuat sekarang. Inilah yang membuat istilah ‘serakahnomic’ terasa mengena,” pungkasnya.














