Trump: Zelensky Bisa Akhiri Perang, tapi Ukraina Tak Masuk NATO

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait perang Rusia–Ukraina. Ia menegaskan bahwa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebenarnya bisa menghentikan perang “kapan saja jika ia mau”. Namun, Trump menekankan syarat utama kesepakatan damai adalah Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO.

Komentar tersebut ia sampaikan hanya beberapa jam sebelum pertemuannya dengan Zelensky di Gedung Putih. Trump juga memastikan tidak ada pembahasan mengenai pengembalian wilayah Crimea kepada Ukraina, setelah wilayah itu dianeksasi Rusia pada 2014.

Pernyataan ini muncul usai Trump melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Hasilnya, Trump membatalkan tuntutan gencatan senjata sementara dan justru mendorong terbentuknya perjanjian damai permanen.

Melalui unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, pada Minggu (17/8) malam waktu AS, Trump menulis:

“Presiden Zelensky bisa segera menghentikan perang dengan Rusia, jika ia mau, atau memilih terus melanjutkannya.”

Trump juga mengingatkan kembali soal sikap lama Washington terhadap Ukraina.

“Crimea tidak pernah dikembalikan saat Obama berkuasa, dan Ukraina tidak akan masuk NATO. Beberapa hal memang tidak berubah!”

Sebelum Trump kembali ke kursi presiden pada Januari lalu, para anggota NATO telah menyetujui jalur “tak bisa dibatalkan” bagi Kyiv untuk menjadi anggota aliansi tersebut. Namun, arah kebijakan itu kini dipertanyakan.

Pada Senin (18/8), Zelensky dijadwalkan hadir di Washington bersama Sekjen NATO Mark Rutte, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, serta sejumlah pemimpin Eropa lainnya untuk membicarakan masa depan Ukraina. Trump menambahkan:

“Besok akan jadi hari bersejarah di Gedung Putih. Tidak pernah ada begitu banyak pemimpin Eropa hadir bersamaan. Suatu kehormatan besar bagi saya!”

Sementara itu, Zelensky melalui unggahan di media sosial menyampaikan rasa terima kasih atas undangan Trump. Ia menegaskan tekad Ukraina untuk mencari jalan keluar damai.

“Kami semua memiliki tekad yang kuat untuk mengakhiri perang ini dengan cepat dan aman.”

Namun, Zelensky juga menekankan pentingnya jaminan keamanan nyata dari sekutu, berbeda dengan Memorandum Budapest 1994 yang gagal melindungi negaranya.

“Krimea seharusnya tidak pernah dilepaskan kala itu. Sama halnya dengan Kyiv, Odesa, atau Kharkiv—yang tetap kami pertahankan setelah 2022.”