JurnalPatroliNews – Jakarta – Michael Schill resmi melepaskan jabatan sebagai Presiden Universitas Northwestern setelah hampir tiga tahun memimpin kampus ternama di Illinois. Keputusan ini diumumkan pada Kamis, 4 September 2025, dan disebut berkaitan dengan ketegangan antara pihak universitas dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kebijakan efisiensi pendidikan tinggi.
Dalam pernyataan tertulisnya, Schill mengakui adanya perbedaan mendasar dengan pemerintah federal. “Banyak persoalan berat masih menggantung, terutama yang melibatkan kebijakan di tingkat nasional. Saya percaya inilah saat yang tepat untuk memberikan tongkat estafet kepada pemimpin baru,” tulisnya, dikutip Al Jazeera, Jumat, 5 September 2025.
Ia menekankan pentingnya menjaga reputasi Northwestern sebagai universitas riset kelas dunia. “Misi akademik, kebebasan intelektual, serta integritas universitas harus terus dipertahankan, siapa pun penggantinya nanti,” tegas Schill.
Masa kepemimpinannya tidak lepas dari kontroversi. Schill harus berhadapan dengan kasus serius di departemen atletik, termasuk perpeloncoan, pelecehan seksual, hingga isu rasisme. Selain itu, pada 2024, ia juga menghadapi gelombang protes besar dari mahasiswa pro-Palestina yang menentang perang Israel di Gaza.
Alih-alih menggunakan aparat kepolisian seperti yang dilakukan beberapa kampus lain, Schill memilih berdialog. Pada April 2024, ia mencapai kesepakatan dengan mahasiswa: sebagai imbalan atas pembongkaran tenda protes dan pembatasan durasi aksi, pihak kampus bersedia membentuk komite penasihat baru untuk meninjau investasi universitas, merespons desakan agar Northwestern menarik dana dari Israel. Kesepakatan ini kemudian ditiru oleh beberapa universitas besar lain, termasuk Johns Hopkins.
Namun langkah tersebut justru mengundang kritik keras dari Presiden Trump. Ia menilai protes pro-Palestina di kampus-kampus telah menciptakan suasana tidak aman bagi mahasiswa dan staf keturunan Yahudi, sehingga berulang kali mengancam menjatuhkan sanksi terhadap universitas yang dianggap membiarkan aksi itu berlangsung.














