JurnalPatroliNews – Jakarta – Konflik Rusia dan Ukraina terus bereskalasi. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa aliansi militer NATO kini dianggap terlibat langsung dalam peperangan melawan Rusia. Pernyataan itu disampaikan Peskov pada Senin (15/9/2025) dan kembali dikutip oleh media Rusia, RT, Minggu (21/9).
Menurutnya, dukungan yang diberikan NATO kepada Ukraina, baik secara militer, finansial, maupun intelijen, menunjukkan bahwa aliansi tersebut tidak lagi berada di luar konflik. “Dengan kepastian mutlak dapat dikatakan NATO berperang melawan Rusia,” ujar Peskov.
NATO sendiri adalah pakta pertahanan politik dan militer yang dibentuk pada 1949 pasca Perang Dunia II. Aliansi ini bertujuan menjaga keamanan bersama para anggotanya melalui jalur politik maupun kekuatan militer. Prinsip dasar yang dipegang adalah pertahanan kolektif sesuai Pasal 5, yaitu serangan terhadap satu anggota berarti dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Kini, NATO beranggotakan 32 negara dari kawasan Amerika Utara dan Eropa.
Invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 menjadi puncak konflik yang sudah berlangsung sejak 2014. Moskow berulang kali menyatakan penolakannya terhadap ekspansi NATO ke arah timur, termasuk wacana keinginan Ukraina untuk menjadi anggota aliansi. Hal itu dinilai sebagai ancaman langsung bagi keamanan nasional Rusia.
Sejak awal perang, NATO berada pada posisi dilematis. Di satu sisi, mereka mengecam keras serangan Rusia. Namun, aliansi ini berupaya menghindari konfrontasi langsung untuk mencegah pecahnya perang skala penuh antara NATO dan Rusia, yang bisa berujung pada ancaman nuklir.
Dukungan NATO kepada Ukraina lebih banyak berupa bantuan militer dan kemanusiaan. Negara-negara anggota telah mengirimkan senjata, sistem pertahanan udara, artileri, tank, amunisi, serta memberikan pelatihan kepada pasukan Ukraina. Di luar itu, NATO juga menyalurkan bantuan finansial dan logistik.
Meski NATO menegaskan mereka tidak menjadi pihak langsung dalam konflik, pernyataan tersebut dipandang berbeda oleh Moskow. Kremlin menilai dukungan nyata aliansi itu telah menjadikan NATO bagian dari peperangan yang sedang berlangsung.














