Kader PDIP Gorontalo Dipecat Usai Video Kontroversial Viral

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketua DPD PDIP Gorontalo, La Ode Haimudin, resmi memberhentikan kadernya, Wahyudin Moridu, dari kursi anggota DPRD Provinsi Gorontalo. Keputusan tegas ini diambil setelah beredarnya video Wahyudin yang mengaku ingin “merampok uang negara” bersama seorang perempuan, sehingga menuai kecaman publik.

“Saya tegaskan, ini bukan sekadar penonaktifan, melainkan pemberhentian penuh dari jabatan sebagai anggota DPRD,” ujar La Ode kepada awak media, Minggu (21/9).

La Ode menambahkan, langkah pemecatan tersebut sudah mengikuti prosedur dan aturan internal partai. “Sesuai mekanisme, ketika sanksi pemberhentian dijatuhkan, partai wajib menyampaikan keputusan itu secara resmi kepada lembaga terkait,” jelasnya.

Atas peristiwa memalukan ini, La Ode menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Gorontalo. Menurutnya, perbuatan Wahyudin tidak hanya mencoreng nama baik partai, tetapi juga tidak layak dilakukan oleh seorang pejabat publik. “Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Sikap yang bersangkutan sama sekali tidak pantas,” tegasnya.

DPD PDIP Gorontalo kini tengah menyiapkan proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk menggantikan posisi Wahyudin di DPRD.

Dalam video berdurasi sekitar 65 detik yang beredar luas di media sosial, Wahyudin terdengar secara terang-terangan menyebut dirinya akan “merampok uang negara” lewat perjalanan dinas ke Makassar, Sulawesi Selatan. “Hari ini kita ke Makassar pakai uang negara. Kita rampok saja uang negara ini, habiskan saja. Biar negara makin miskin,” ucapnya dalam rekaman itu.

Dalam kondisi yang diduga dipengaruhi minuman beralkohol, Wahyudin juga menyebut identitas dirinya dengan jelas: “Siapa ji. Wahyudin Moridu, anggota DPRD Provinsi Gorontalo.”

Pasca-viral, Wahyudin akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosial pribadinya. Ia mengakui kesalahannya dan menyesali ucapan yang dilontarkan. “Apa pun yang saya lakukan di video itu tidak benar dan tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik. Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Gorontalo,” tulisnya.