JurnalPatroliNews – Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintah mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Meski dianggap penting bagi masa depan generasi muda, tata kelola program ini dinilai masih rapuh dan membutuhkan pembenahan serius.
Pakar kebijakan publik Universitas Pasundan Bandung, Eki Baehaki, menegaskan bahwa MBG merupakan bentuk intervensi negara yang sangat dibutuhkan di tengah persoalan gizi di Indonesia. Namun, ia mengingatkan agar semangat mulia ini tidak runtuh karena lemahnya manajemen.
“Sepiring makan bergizi di sekolah adalah intervensi penting. Tapi kalau tata kelolanya buruk, tujuan besar ini bisa gagal. Program MBG harus diteruskan, tapi dengan perbaikan sistem yang jelas,” ujar Eki, dikutip Minggu (28/9/2025).
Menurut Eki, program MBG tidak bisa ditawar mengingat Indonesia masih menghadapi tantangan serius seperti stunting, anemia, hingga malnutrisi kronis yang menggerus kualitas generasi muda. Ia menilai kasus keracunan makanan di sejumlah sekolah menjadi sinyal bahaya bahwa standar keamanan pangan belum dijalankan konsisten. Prinsip dasar seperti kebersihan, pemisahan bahan mentah dan matang, penyimpanan di suhu aman, serta penggunaan bahan baku layak harus benar-benar ditegakkan.
“Ini adalah investasi besar. Jangan sampai justru menimbulkan kerugian kesehatan dan hilangnya kepercayaan publik,” tegas penggiat Citarum Harum tersebut.
Eki menambahkan, revitalisasi tata kelola MBG harus segera dilakukan agar tujuan program tetap berjalan dan terjaga keberlanjutannya.
Beberapa waktu lalu, insiden terkait MBG terjadi di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, antara 22–24 September 2025. Dari total 16 kecamatan, dua di antaranya tercatat mengalami kendala.
Sementara itu, bagi murid SD Negeri 2 Cimareme, Kecamatan Ngamprah, MBG sudah menjadi bagian dari keseharian. Anak-anak menikmati menu yang disajikan dengan penuh keceriaan, salah satunya Aleyshia, siswi kelas 3.
“Tadi makan burger, enak,” ujarnya polos saat menunggu jemputan orang tua.
Dua temannya juga mengungkapkan hal serupa, meski kali ini tanpa minuman susu. “Sekarang minumnya air putih saja,” kata salah seorang siswi sambil menunjukkan botol dari rumah.
Keceriaan mereka tetap terlihat hingga akhirnya dijemput pulang. Di dalam sekolah, Zainudin, penjaga sekolah, terlihat membereskan ratusan ompreng bekas makan siang. Ia memastikan sejauh ini tidak ada murid yang mengeluh sakit setelah menyantap MBG.
“Alhamdulillah aman. Ompreng ini juga dirapikan agar bisa dipakai lagi. Mahal, jadi harus dijaga,” katanya sambil mengikat ompreng dengan tali rafia.
Meski ada kekhawatiran soal keamanan pangan, sebagian orang tua tetap mendukung keberlanjutan program ini. Siti, wali murid kelas 4, mengatakan pihak sekolah selalu melakukan pengecekan makanan sebelum dibagikan.
“Guru-guru di sini selalu coba dulu. Kalau ada yang basi, tidak dikasih ke anak-anak. Itu yang membuat saya tenang,” ungkapnya.
Hal senada diutarakan Linda, orang tua murid kelas 2. Menurutnya, program ini sangat membantu keluarga.
“Dengan adanya MBG, beban keluarga jadi lebih ringan. Anak-anak juga terbantu makan di sekolah,” ujarnya.














