JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program hilirisasi sebagai strategi utama memperkuat nilai tambah pengelolaan sumber daya alam (SDA).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, kemandirian bangsa tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, tetapi juga dari kemampuan mengolah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi bernilai tinggi. Memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program hilirisasi akan terus dipercepat.
“Strategi hilirisasi dipandang penting untuk melepaskan Indonesia dari jebakan ekspor bahan mentah dan memperkuat posisi tawar di rantai nilai global,” ujar Bahlil Lahadalia dalam keterangannya, Rabu (22/10/2025).
Ia menegaskan, kebijakan hilirisasi merupakan amanah konstitusi sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara serta digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Untuk mempercepat hilirisasi, pemerintah melalui Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menyiapkan 18 proyek prioritas senilai lebih dari Rp 618 triliun yang dikelola oleh Badan Pengelola Daya Anagata Nusantara (BP Danantara).
Proyek tersebut meliputi delapan proyek sektor minerba, dua proyek transisi energi, dua proyek ketahanan energi, tiga proyek hilirisasi pertanian, dan tiga proyek hilirisasi kelautan serta perikanan. Sekitar 67 persen dari total proyek berada di luar Pulau Jawa.
Rangkaian proyek tersebut dirancang untuk membangun rantai nilai industri dalam negeri sekaligus mendorong pemerataan pembangunan.
Beberapa inisiatif mencakup pengembangan industri alumina, mangan sulfate, stainless steel slab, modul surya, bioavtur, hingga fasilitas penyimpanan minyak, serta proyek-proyek di sektor kelautan, kehutanan, dan pertanian.
Peresmian smelter emas PT Freeport Indonesia menjadi salah satu contoh nyata penguatan rantai industri pertambangan nasional. Di sisi lain, pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik berkapasitas 15 gigawatt akan menentukan arah industri otomotif masa depan Indonesia.
Selain transformasi industri, hilirisasi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kementerian ESDM telah menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi bagi puluhan ribu tenaga kerja di sektor energi dan pertambangan agar mampu memenuhi kebutuhan industri masa depan.
Bahlil menegaskan, hilirisasi bukan lagi sekadar konsep, melainkan strategi nyata untuk mengakhiri ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Dengan mengolah SDA secara mandiri menjadi produk bernilai tinggi, Indonesia dapat meningkatkan pendapatan negara, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat posisi strategis di pasar global.
“Hilirisasi adalah jalan untuk memperkuat ekonomi nasional dan menegaskan kedaulatan bangsa. Sumber daya alam tidak boleh menjadi sumber ketimpangan, tetapi harus menjadi sumber kemakmuran,” pungkas Bahlil.














