Gaza Berdarah Lagi, 9 Warga Palestina Tewas Diserang Israel

JurnalPatroliNews – Jakarta – Serangan udara yang kembali dilancarkan militer Israel di Jalur Gaza pada Selasa (28/10/2025) malam menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya.

Aksi ini dinilai sebagai pelanggaran terbaru terhadap perjanjian gencatan senjata yang masih berlaku di wilayah tersebut.

Menurut sumber medis setempat, salah satu serangan paling mematikan terjadi di kawasan permukiman Sabra, Kota Gaza — area yang berada di dalam “garis kuning”, wilayah yang seharusnya bebas dari operasi militer Israel sesuai kesepakatan damai.

Empat warga dilaporkan tewas setelah rudal menghantam sebuah rumah, sementara beberapa lainnya masih tertimbun reruntuhan. “Beberapa korban belum ditemukan, kondisi di lokasi sangat memprihatinkan,” kata salah satu petugas medis sebagaimana dikutip dari Antara.

Istilah “garis kuning” merujuk pada zona yang ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata, di mana pasukan Israel diwajibkan menarik diri sepenuhnya. Garis ini membentang dari Gaza Utara hingga wilayah Rafah di selatan.

Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di Khan Younis, bagian selatan Jalur Gaza, yang menewaskan lima warga sipil setelah sebuah kendaraan menjadi sasaran rudal Israel di area yang sama.

Aksi militer ini berlangsung hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan “serangan cepat dan kuat” ke wilayah Gaza.

Netanyahu beralasan, operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok Hamas.

Jurnalis Anadolu Agency melaporkan, selain serangan udara, artileri Israel juga menghantam kamp pengungsi Shati di barat Kota Gaza serta Deir al-Balah di bagian tengah. Bahkan, sejumlah rudal dilaporkan jatuh di sekitar Kompleks Medis Shifa, rumah sakit terbesar di Gaza.

Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas sejatinya mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025, sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Tahap pertama kesepakatan itu mencakup pertukaran tahanan dan sandera, sementara fase berikutnya diarahkan pada rekonstruksi Gaza serta pembentukan pemerintahan baru tanpa melibatkan Hamas.

Sejak perang berkecamuk pada Oktober 2023, lebih dari 68.500 warga Palestina telah tewas, mayoritas di antaranya perempuan dan anak-anak.

Sedangkan jumlah korban luka tercatat melebihi 170.000 orang, menjadikan konflik ini salah satu tragedi kemanusiaan terbesar abad ini.