Serikat Pekerja Starbucks Ancam Gelar Mogok Nasional Menjelang Musim Liburan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Serikat pekerja Starbucks di Amerika Serikat (AS) mengumumkan kesiapan untuk melancarkan pemogokan besar-besaran menjelang periode liburan apabila kesepakatan kontrak baru dengan manajemen tidak tercapai sebelum 13 November, bertepatan dengan Red Cup Day, salah satu hari tersibuk bagi jaringan kedai kopi tersebut.

Organisasi pekerja Starbucks Workers United menyebut bahwa aksi mogok berpotensi terjadi di lebih dari 25 kota, dan dapat meluas jika proses perundingan tak menunjukkan kemajuan. Kedua pihak saling menyalahkan atas mandeknya negosiasi sejak akhir tahun lalu, meski masing-masing mengaku siap kembali berdiskusi.

“Jika Starbucks tetap tidak bergerak, mereka harus siap menanggung risiko kebangkrutan. Keputusannya ada pada Starbucks,” ujar juru bicara serikat, Michelle Eisen, dikutip dari Reuters, Kamis, 6 November 2025.

Serikat menuntut kontrak baru yang mencakup peningkatan jumlah pekerja, kenaikan upah, serta perlindungan ketenagakerjaan yang lebih baik. Lebih dari 1.000 dugaan pelanggaran ketenagakerjaan telah dilaporkan ke Dewan Hubungan Perburuhan Nasional AS.

Pihak perusahaan menegaskan bahwa kesepakatan baru harus mempertimbangkan fakta bahwa Starbucks telah memberikan “pekerjaan terbaik di sektor ritel.” Perusahaan menyebut para karyawan yang bekerja minimal 20 jam per minggu telah menerima sejumlah fasilitas, termasuk asuransi kesehatan, cuti orang tua, serta biaya kuliah daring di Arizona State University.

Meski ada ancaman mogok, jaringan kopi asal Seattle tersebut memastikan sebagian besar gerainya akan tetap beroperasi selama masa liburan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Starbucks telah menutup lebih dari 600 gerai dan memangkas staf di kantor pusat sebagai bagian dari upaya pemulihan bisnis setelah mengalami penurunan penjualan selama enam kuartal berturut-turut.