JurnalPatroliNews – Jakarta -Banjir rob akibat cuaca ekstrem kembali menerjang kawasan pesisir Pantai Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Jumat (7/11/2025) malam.
Gelombang tinggi disertai angin kencang merusak sejumlah lapak pedagang kaki lima di kawasan Wisata Kuliner Batako dan membawa tumpukan sampah laut hingga memenuhi area usaha warga.
Pantauan di lokasi pada Sabtu (8/11/2025) siang sekitar pukul 09.00 WIB menunjukkan tumpukan sampah menutupi area wisata kuliner.
Sejumlah meja dan fasilitas dagang tampak rusak serta terseret ombak besar yang menggulung kawasan pesisir tersebut.
Salah satu pedagang, Wawan (44), pemilik lapak Raci Han Nurul, mengungkapkan bahwa gelombang pasang mulai terasa sejak Kamis sore dan memuncak pada Jumat malam.
“Gelombang sudah dari kemarin sore. Anginnya juga besar. Sampah-sampah dari laut keangkat semua sampai ke lapak,” ujarnya kepada wartawan.
Menurut Wawan, fenomena banjir rob memang sering terjadi setiap akhir tahun dan bisa berlangsung selama satu hingga dua bulan. “Sudah biasa tahunan kalau akhir tahun seperti ini. Biasanya sampai sebulan lebih,” katanya.
Akibat banjir rob, para pedagang tidak bisa berjualan seperti biasa karena banyak fasilitas yang rusak. “Dampaknya kami tidak bisa berjualan, jadi tidak ada pemasukan. Beberapa meja dan perlengkapan pedagang juga ada yang hanyut,” tutur Wawan.
Untuk penanganan sampah, pembersihan dilakukan bersama antara pengelola kawasan dan para pedagang. “Biasanya ada pengelola juga yang bersihkan sampah, tetapi kami pedagang juga ikut nyapu sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, staf UPTD Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Labuan, Saifudin Jafar (43), mengimbau para nelayan dan warga pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan. Cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlanjut hingga dua hari ke depan.
“Kami sudah informasikan ke para nelayan agar berhati-hati dan waspada melaut pada 7-8 November ini,” jelas Saifudin.
Berdasarkan data pemantauan UPTD, tinggi gelombang di perairan Selat Sunda mencapai 1–2 meter dengan kecepatan angin 7–17 knot.
Kondisi tersebut membuat aktivitas melaut berisiko tinggi. “Gelombang cukup tinggi dan kondisi cuaca tidak stabil pada 7 hingga 8 November ini,” tegasnya.
Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan penanganan darurat, terutama terkait kebersihan dan perbaikan fasilitas pedagang, agar aktivitas ekonomi di kawasan wisata kuliner Labuan bisa segera pulih.














