JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah berencana menerapkan kebijakan bahan bakar minyak (BBM) yang mengandung etanol 10 persen atau E10 sebagai bagian dari upaya transisi menuju energi bersih dan ramah lingkungan. Kebijakan ini mulai diberlakukan pada 2027.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, mengungkapkan bahwa Toyota Motor Corporation menyatakan kesiapannya untuk berinvestasi dalam pengembangan ekosistem bioethanol di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan rencana pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi berbasis sumber daya terbarukan.
“Toyota melihat peluang besar untuk berinvestasi dalam pemenuhan kebutuhan bioethanol di Indonesia, terutama menjelang penerapan mandatori E10,” ujar Todotua di Jakarta, Minggu (9/11/2025), dikutip dari Antara.
Todotua yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan, kebutuhan BBM nasional mencapai lebih dari 40 juta kiloliter per tahun.
Dengan penerapan E10, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter bioethanol setiap tahunnya. Untuk itu, pembangunan infrastruktur pendukung perlu segera dilakukan.
Pernyataan tersebut disampaikan usai Todotua bertemu dengan CEO Asia Region Toyota Motor Corporation, Masahiko Maeda, dan meninjau fasilitas riset Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RABIT) di Fukushima, Jepang. Pertemuan itu membahas rencana investasi Toyota untuk membangun ekosistem bioethanol di Indonesia.
“Inisiatif ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya swasembada energi, ekonomi hijau, dan hilirisasi sumber daya alam nasional,” kata Todotua.
Toyota melalui RABIT saat ini tengah mengembangkan bioethanol generasi kedua berbasis biomassa nonpangan, seperti limbah pertanian dan tanaman sorgum. Teknologi ini dinilai sesuai dengan potensi agrikultur Indonesia dan mendukung produksi berkelanjutan.
“Teknologi ini bersifat multi feedstock, dapat mengolah berbagai jenis limbah pertanian seperti tebu, singkong, padi, kelapa sawit, hingga aren. Indonesia punya semua bahan bakunya,” tambahnya.
Mengacu pada Roadmap Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, sejumlah wilayah termasuk Lampung telah disiapkan sebagai sentra industri bioethanol dengan dukungan bahan baku lokal.
Sebagai proyek perintis, kerja sama dengan Pertamina New Renewable Energy (NRE) di Lampung sudah dalam tahap pembahasan. Pasokan bahan baku nantinya akan melibatkan petani dan koperasi, serta diintegrasikan dengan fasilitas geothermal dan hidrogen milik Pertamina.
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) juga menyatakan minat untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik bioethanol dengan kapasitas produksi 60.000 kiloliter per tahun. Nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp 2,5 triliun.
Rencana ini akan diawali dengan studi bersama (joint study) antara Toyota dan Pertamina yang dijadwalkan berlangsung hingga awal 2026. Targetnya, perusahaan patungan (joint venture) dapat segera dibentuk dan mulai konstruksi fasilitas produksi.
“Investasi ini tidak hanya memperkuat rantai pasok energi bersih, tapi juga membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal,” pungkas Todotua.













